Gema Dua Adzan: Menjemput Berkah di Ujung Malam Ramadan

Gema Dua Adzan: Menjemput Berkah di Ujung Malam Ramadan
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Dawn does not come just to wake up a sleeping body, but to awaken a soul that longs for the caress of God’s grace.”
​”(Fajar tidak hadir sekadar untuk membangunkan raga yang lelap, melainkan untuk membangkitkan jiwa yang rindu akan belaian rahmat Tuhannya)”

​Menghidupkan sunah dua kali adzan Subuh adalah bentuk ketaatan yang kini mulai langka. Di bulan Ramadan, praktik ini menjadi tolok ukur ibadah yang sangat tepat bagi umat. Allah SWT berfirman:
وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ …….”
Artinya:
​“...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…..”(Qs. Al-Baqarah: 187)

Ayat di atas adalah garis tegas penanda batas sahur.

Hikmah: Mengenal Dua Jenis Fajar

​Rasulullah Saw secara bijaksana membagi tugas kepada dua muadzin untuk menandai dua fenomena alam yang berbeda:

​1. Adzan Bilal bin Rabah (Adzan Pertama) Menandai Fajar Kadzib (Fajar Semu)

Diketahui sebagai “adzan malam” atau adzan sebelum fajar shadiq (fajar yang sebenarnya) muncul. Fungsinya adalah membangunkan orang yang tidur dan memberi isyarat bagi yang sedang salat malam untuk mengakhiri salatnya dan bersiap sahur.

2 ​Adzan Ibnu Ummi Maktum (Adzan kedua) Menandai Fajar Shadiq (Fajar Nyata)

Diketahui sebagai “adzan fajar” atau adzan yang sesungguhnya menandai masuknya waktu salat Subuh (terbit fajar shadiq). Saat mendengar adzan ini wajib berhenti makan dan minum. Rasulullah Saw menjelaskan praktiknya secara gamblang:
وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ, وَعَائِشَةَ قَالَا: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ بِلَالاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ, فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ اِبْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ”, وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لَا يُنَادِي, حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ, أَصْبَحْتَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Artinya:
Dari Ibnu ‘Umar dan Aisyah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bilal akan berazan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum berazan.” Ibnu Ummi Maktum adalah laki-laki buta yang tidak akan berazan kecuali setelah ada yang berkata, ‘Telah masuk waktu Shubuh, telah masuk waktu Shubuh.” (HR. Bukhari, No. 617 dan Muslimn No. 1092)

​Terkait kemuliaan menghidupkan sunah ini, beliau juga bersabda: Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Artinya:
Barangsiapa yang menghidupkan satu sunah dari sunah-sunahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ (HR. Ibnu Majah No. 209)

Hadis ini mendorong umat Islam untuk mempelajari dan mempopulerkan kembali ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam di tengah masyarakat.

​Menghidupkan Sunah di Indonesia

​Di Indonesia, mayoritas masjid umumnya hanya mengumandangkan adzan satu kali. Upaya menghidupkan kembali sunah dua kali adzan sangatlah mulia, namun memerlukan edukasi yang lembut agar jamaah tidak bingung.

Menurut kajian Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah, bacaan tatswib (Ash-shalatu khairum minan naum) disyariatkan dan sunah dibaca, terutama pada azan pertama Subuh, bukan pada azan kedua (azan fajar/tsani). Hal ini didasarkan pada riwayat bahwasanya tatswib digunakan sebagai pengingat awal agar umat Islam segera bangun.

​Pertanyaan untuk kita:
Apakah masjid di sekitar tempat tinggal Anda sudah mulai menerapkan sunah dua kali adzan ini?

Mari kita jaga kelestarian sunnah ini dengan ilmu dan kebijaksanaan. Semoga kita termasuk golongan yang istiqamah dalam menjemput keberkahan di waktu fajar.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search