Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Sejak kecil mereka sudah akrab dengan gadget, internet, dan media sosial. Tak heran jika banyak yang menyebut mereka sebagai generasi paling “melek teknologi” dibanding generasi sebelumnya.
Namun, di balik keunggulan itu, muncul pertanyaan penting: apakah Generasi Z benar-benar semakin pintar, atau justru terjebak dalam layar?
Di satu sisi, teknologi telah membuka akses pengetahuan tanpa batas. Generasi Z bisa belajar apa saja hanya dengan sentuhan jari. Materi pelajaran, tutorial, hingga ilmu baru tersedia luas di internet. Hal ini membuat mereka lebih cepat mendapatkan informasi dan memiliki peluang besar untuk berkembang. Kreativitas pun tumbuh melalui berbagai platform digital, mulai dari membuat konten hingga mengembangkan keterampilan baru.
Namun di sisi lain, kemudahan ini sering kali membawa dampak yang tidak disadari. Banyak anak muda yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, bukan untuk belajar, tetapi untuk hiburan semata.
Media sosial, game online, dan video pendek menjadi “jebakan” yang membuat waktu terasa cepat berlalu tanpa hasil yang berarti. Akibatnya, muncul masalah baru seperti menurunnya fokus, kecanduan gadget, hingga berkurangnya interaksi sosial di dunia nyata. Tidak sedikit yang lebih nyaman berkomunikasi melalui layar daripada bertatap muka langsung. Jika dibiarkan, hal ini bisa memengaruhi kemampuan bersosialisasi dan kesehatan mental generasi muda.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah mengingatkan pentingnya menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3 disebutkan:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3)
Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga. Jika dihabiskan untuk hal yang tidak bermanfaat, maka manusia termasuk dalam golongan yang merugi.
Selain itu, Allah juga berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini relevan dengan kehidupan digital saat ini, di mana informasi sangat mudah diakses. Generasi Z dituntut untuk bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, agar tidak terjebak dalam hal yang merugikan.
Padahal, teknologi sejatinya hanyalah alat. Ia bisa menjadi jembatan menuju kesuksesan, tetapi juga bisa menjadi penghambat jika tidak digunakan dengan bijak. Kunci utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Namun potensi itu hanya bisa terwujud jika mereka mampu mengendalikan penggunaan teknologi, bukan dikendalikan olehnya. Membatasi waktu layar, memanfaatkan internet untuk hal produktif, serta menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata menjadi hal yang sangat penting.
Maka, di era digital ini, pilihan ada di tangan kita: menjadi generasi yang memanfaatkan teknologi untuk berkembang, atau generasi yang justru kehilangan arah karena dikendalikan oleh layar. (*)
