Hari Tani Nasional bukan hanya milik petani. Ia adalah momentum bagi kita semua untuk kembali menyadari bahwa kehidupan bermula dari tanah. Dari tanah tumbuh pangan. Dari pangan tumbuh kehidupan. Dan dari cara kita memperlakukan tanah, akan ditentukan seperti apa kehidupan generasi mendatang.
Setiap hari kita makan nasi, sayur, ikan, buah, dan berbagai pangan lainnya. Pernahkah kita bertanya: siapa yang menanamnya? Bagaimana membudidayakannya? Apakah petaninya sejahtera? Cukupkah bahan pangan tersebut untuk keluarga dan masyarakat kita di tengah-tengah perubahan iklim dan berbagai krisis di masa depan?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting bagi gerakan perempuan seperti ’Aisyiyah. Karena urusan pangan bukan sekadar urusan pertanian. Pangan berkaitan dengan keluarga, kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, bahkan masa depan peradaban.
GLHA: Ikhtiar Wujudkan Mandiri Pangan
Gerakan Lumbung Hidup ’Aisyiyah (GLPA) menjadi penting karena akan menjadi gerakan yang lebih besar daripada sekadar aktivitas bercocok tanam. Gerakan ini merupakan ikhtiar membangun keluarga yang mandiri, masyarakat yang berdaya, lingkungan yang lestari, dan kehidupan yang lebih sejahtera.
Perempuan bukan hanya pengguna pangan, tetapi juga penghasil pengetahuan, pengelola sumber daya, pelaku ekonomi, penggerak komunitas, dan agen perubahan.
Ketika perempuan ‘Aisyiyah melakukan Gerakan Lumbung Hidup dengan menanam cabai di pekarangan, membuat kompos dari sisa dapur, menanam ikan ikan dalam ember/budikdamber, memelihara ayam di pekarangan, mengembangkan kebun keluarga, mengolah hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi, atau mengajak tetangganya menanam bersama, sesungguhnya ia sedang melakukan kerja peradaban.
Gerakan tersebut memiliki pesan bahwa keluarga dapat berdaya, masyarakat dapat bergerak, dan bumi harus dirawat. Inilah semangat perempuan berkemajuan yang tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi menghadirkan kemaslahatan sosial.
Memulai dengan Langkah Sederhana
Lumbung hidup dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana. Tidak harus memiliki sawah yang luas. Tidak harus menunggu bantuan besar. Pekarangan rumah dapat menjadi ruang pertama.
Inilah kekuatan gerakan. Gerakan tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Gerakan dimulai ketika kesadaran berubah menjadi tindakan dan tindakan dilakukan bersama-sama.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan bumi dan berbagai kehidupan yang tumbuh di atasnya. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini memberikan pesan penting bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi. Kita adalah bagian dari kehidupan yang menerima amanah untuk mengelolanya. Maka, merawat tanah bukan hanya pekerjaan teknis pertanian. Ia juga memiliki dimensi moral dan spiritual.
Ketika tanah dirawat, air dijaga, tanaman dibudidayakan dengan baik, dan pangan dihasilkan untuk kemaslahatan, di sana terdapat nilai syukur sekaligus amanah. Gerakan lingkungan dan pangan dapat menjadi bagian dari dakwah bil-hal ’Aisyiyah. Bukan hanya mengajak dengan kata-kata, tetapi menghadirkan teladan melalui tindakan.
Semangat Hari Tani
Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 169 Tahun 1963. Momentum Hari Tani juga perlu menjadi kesempatan untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan petani dan kegiatan bertani. Kita sering menikmati hasil pertanian, tetapi tidak selalu memahami perjuangan di baliknya.
Petani berhadapan dengan cuaca, harga input, hama, keterbatasan modal, perubahan iklim, akses pasar, dan berbagai persoalan lainnya. Membangun kedaulatan pangan tidak cukup dengan mengajak masyarakat menanam di pekarangan. Kita juga perlu menguatkan petani dan ekosistem pertanian lokal. ’Aisyiyah dapat menjadi jembatan antara konsumen dan produsen.
Sekolah-sekolah ’Aisyiyah dapat mengenalkan anak-anak kepada dunia pertanian. Majelis dan lembaga dapat mengembangkan edukasi pangan sehat. Ranting dapat membangun kebun komunitas. Cabang dapat menghubungkan kelompok-kelompok perempuan dengan kelompok tani. Pimpinan Daerah dan Wilayah dapat membangun kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.
Penguatan GLHA Melalui Kolaborasi Pentahelix
Hidup tidak berhenti pada produksi pangan rumah tangga, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pangan lokal melalui Kolaborasi Pentahelix. Persoalan pangan dan lingkungan terlalu besar jika dikerjakan sendirian, maka dibutuhkan kolaborasi. Di sinilah pendekatan pentahelix menjadi relevan. Ada lima unsur yang dapat bergerak bersama: pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Pemerintah memiliki kebijakan dan program. Perguruan tinggi/Akademisi memiliki ilmu dan inovasi. Dunia usaha memiliki teknologi, modal, dan jaringan pasar. Masyarakat memiliki pengalaman, tenaga, dan kekuatan gotong royong. Media memiliki kemampuan mengedukasi membangun kesadaran publik.
Jika kelimanya dipertemukan, gerakan kecil dapat memperoleh daya ungkit yang lebih besar. Bagi ’Aisyiyah, masyarakat bukan sekadar objek program. Ranting dan Cabang justru dapat menjadi pusat gerakan di tingkat akar rumput. Jika digambarkan Kolaborasi Pentahelix sebagai berikut:
Bayangkan jika setiap Ranting ’Aisyiyah memiliki satu program Lumbung Hidup maka Gerakan itu akan menguatkan kemandirian pangan dan merawat bumi. Cabang kemudian dapat menjadi ruang belajar bersama antar-Ranting. Praktik baik dari satu Ranting dapat direplikasi di Ranting lain.
Pimpinan Daerah dapat memperluas jejaring dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Pimpinan Wilayah dapat membangun jejaring lintas daerah. Dengan pola seperti ini, struktur organisasi ’Aisyiyah bukan hanya menjadi struktur administratif, tetapi menjadi jaringan gerakan yang dinamis dan menjadi tempat sharing pengetahuan, tempat belajar bersama.
Di sinilah perguruan tinggi dapat berperan. Mahasiswa dapat melakukan pendampingan. Dosen dapat melakukan riset. Teknologi digital dapat digunakan untuk mencatat produksi dan pemasaran. Media ’Aisyiyah dapat mengangkat kisah-kisah inspiratif dari Ranting.
Wujud Kedaulatan Pangan
Lumbung Hidup dapat berkembang menjadi lumbung pangan, lumbung ekonomi, sekaligus lumbung pengetahuan. Harapannya Gerakan ini akan menjadi Gerakan yang menguatkan akar rumput ‘Aisyiyah, menguatkan Cabang dan Ranting, menguatkan kemandirian dan kedaulatan pangan di tingkat keluarga. Kegiatan ini hendaknya juga melibatkan generasi muda, yakni Angkatan Muda Muhammadiyah.
Pentahelix mengajarkan bahwa kita tidak berjalan sendiri. Nilai-nilai Islam mengingatkan bahwa bumi adalah amanah. Maka, mari menghidupkan pekarangan, menguatkan petani, memberdayakan perempuan, melibatkan generasi muda, membangun kolaborasi, dan merawat bumi.
Pada akhirnya, kedaulatan pangan bukan hanya tentang memiliki makanan di meja makan, tetapi tentang kemampuan sebuah masyarakat menjaga sumber kehidupannya dengan adil, mandiri, dan berkelanjutan. || sumber SA
