Di bulan Ramadan, setiap Muslim berlomba-lomba mencari malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar. Malam yang oleh Allah disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr:
“Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan jika dihitung kurang lebih sama dengan 83 tahun lebih. Artinya, satu malam ibadah pada malam tersebut nilainya melebihi ibadah selama puluhan tahun.
Seribu bulan jika dihitung kurang lebih sama dengan 83 tahun lebih. Artinya, satu malam ibadah pada malam tersebut nilainya melebihi ibadah selama puluhan tahun.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan: amal besar tidak hanya dilakukan di masjid atau di sajadah. Amal besar juga bisa dilakukan di ruang kelas.
Guru dan Amal Jariyah
Seorang guru memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ketika ia mengajarkan ilmu kepada muridnya, maka ilmu itu akan terus hidup. Murid yang diajar akan mengamalkan, lalu mengajarkan kepada orang lain, dan pahala akan terus mengalir.
Hal ini sejalan dengan sabda Muhammad SAW.
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Mengajar adalah ilmu yang bermanfaat, salah satu amal yang pahalanya tidak terputus.
Mengajar dengan Niat Lailatul Qadar
Bayangkan jika seorang guru mengajar dengan niat ibadah di bulan Ramadan. Ia datang lebih awal, menyiapkan pelajaran, membimbing murid dengan sabar, bahkan menanamkan akhlak dan iman.
Jika semua itu dilakukan dengan niat karena Allah, maka setiap huruf yang diajarkan, setiap doa yang dituntun, setiap kesabaran menghadapi murid semuanya bernilai ibadah.
Bisa jadi seorang guru tidak mengetahui kapan datangnya Lailatul Qadar. Tetapi ketika ia menjalankan kewajibannya dengan ikhlas, setiap amal yang dilakukan pada malam atau hari itu bisa bernilai seperti ibadah selama seribu bulan.
Guru adalah Penjaga Cahaya Ilmu
Di tangan seorang guru lahir generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga cahaya peradaban.
Dan siapa yang tahu, mungkin di antara langkah kaki menuju sekolah, di antara kesabaran menghadapi murid, di antara doa yang diam-diam yang dipanjatkan untuk masa depan mereka, Allah mempertemukan amal itu dengan kemuliaan Lailatul Qadar.
Maka jangan pernah merasa bahwa menjadi guru hanyalah pekerjaan biasa. Ia adalah jalan pengabdian. Ia adalah ladang amal. Dan mungkin, di sanalah pintu menuju pahala yang lebih baik dari seribu bulan terbuka. (*)
