Guru, Murid dan Orang Tua

Guru, Murid dan Orang Tua
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Tiga elemen ini—guru, murid, dan orang tua—ibarat satu ekosistem yang saling menghidupi pembelajaran.

Mari kita uraikan peran dan sinerginya:

Guru: Penuntun dan Penginspirasi
• Menyusun strategi dan metode pembelajaran yang relevan.
• Menanamkan nilai-nilai seperti integritas, kolaborasi, dan tanggung jawab.
• Menjadi fasilitator yang menghubungkan murid dengan makna di balik materi.

Murid: Penjelajah Makna dan Potensi
• Bukan hanya penerima pengetahuan, tapi juga pembangun pemahaman.
• Belajar aktif melalui refleksi, diskusi, dan eksplorasi.
• Menumbuhkan karakter dan spiritualitas, tidak sekadar akademis.

Orang Tua: Pondasi dan Mitra Pendidikan
• Memberikan dukungan moral, spiritual, dan emosional.
• Menjadi “guru pertama” yang membentuk nilai-nilai dasar anak.
• Berperan aktif dalam kolaborasi dengan sekolah dan guru.

Sinergi Emas: Kolaborasi dan Keberpihakan
• Ketika tiga pihak ini saling mempercayai, pembelajaran menjadi bermakna.
• Komunikasi terbuka dan empatik adalah kuncinya.
• Semua pihak berpihak pada tumbuh kembang anak—secara holistik, bukan hanya akademik.

Rumah = Madrasah pertama, sumber adab dan iman.
Islam menegaskan, pendidikan anak bermula, di rumah.
Rasulullah SAW bersabda :
(HR. Bukhari dan Muslim)
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadis ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan menjadi landasan penting dalam pendidikan berbasis fitrah. Ia menegaskan bahwa anak memiliki potensi spiritual yang murni sejak lahir, dan lingkungan—terutama orang tua—memegang peran besar dalam membentuk arah kehidupannya.

Hadis ini mengingatkan setiap anak lahir dalam keadaan suci, tetapi rumah yang membentuk arah hidupnya. Ketika anak kehilangan adab dan iman, dan sebenarnya yang pertama layak bercermin adalah orang tuanya, bukan guru yang diberi amanah hanya beberapa jam dalam sehari.

Jika mendidik anak diserahkan ke pada guru maka berlaku analisis berikut :
Hormat kepada guru = cermin pendidikan di rumah

Adab anak kepada Guru adalah cerminan teladan orang tua. Ta’lim al-Muta’allim mengajarkan bahwa memuliakan guru bukanlah memuja pribadi, tetapi menghormati Ilmu yang menjadi jalan hidayah. Jika orang tua meremehkan guru, anak akan belajar hal yang sama dan adab pun hilang.

Ada syair klasik ini memperingatkan :
– Guru yang mengajarkan satu huruf agama, ia ibarat ayahmu dalam iman, lalu pantaskah diremehkan
– Adab yang retak, berkah ilmu pun sirna
– Ilmu bukan sekedar hafalan, keberkahannya bertumpu pada adab.

Ulama memperingatkan :
Siapa yang menyakiti gurunya, maka ia terhalang dari keberkahan ilmu dan hanya mendapat sedikit manfaat darinya.

Bait hikmah di bawah ini menyentil keras :
Merendahkan guru sama saja merelakan KEBODOHAN, seperti halnya menolak nasihar dokter lalu menyalahkan PENYAKIT yang tak kunjung sembuh.

Menghormati dan memuliakan ahli ilmu (guru) adalah investasi pendidikan jangka panjang, Jika bukan anakmu yang menjadi alim, mungkin cucumu yang akan mewarisi keberkahan itu.

REFLEKSI: Mengembalikan marwah guru
Hari ini, mudah menyalahkan guru ketika pendidikan gagal, tetapi jarang bertanya; masihkan rumah menjadi madrasah pertama?

Jika tidak mampu mendidik, hormatilah mereka yang menggantikan peran itu.

Jika guru keliru, bimbinglah dengan hikmah, bukan mencederai kehormatanya.

Karena saat adab mati, ilmu kehilangan ruhnya dan pendidikan pun tiggal formalitas yang hampa.

Adab anak cermin orang tua. (*)

Tinggalkan Balasan

Search