Beberapa waktu lalu, saya dihubungi melalui WhatsApp oleh Ustadz H. Budi Marta Saudin, Lc, MA. (Lajnah Fatwa Majelis Tarjih dan Tabligh PCIM Arab Saudi), yang menanyakan alamat saya. Alhamdulillah, tidak lama berselang, saya menerima sebuah paket dari beliau. Ketika saya menanyakan tujuan pengiriman serta nominal yang harus saya transfer, beliau menyampaikan bahwa paket tersebut merupakan hadiah untuk saya.
Masyaallah, hadiah yang sangat eksklusif—istimewa karena langsung dikirim dari Riyadh. Terima kasih banyak, Ustadz Budi. Jazakumullahu khairan.
Dalam paket tersebut terdapat dua buku. Tulisan ini akan membahas secara singkat buku pertama yang telah saya selesaikan, berjudul Oase di Tengah Gurun. Buku setebal 162 halaman ini pertama kali diterbitkan pada Oktober 2025 oleh Penerbit Haura Utama, Sukabumi.
Buku ini berisi kumpulan hikmah yang benar-benar ditulis dari tengah gurun. Penulisnya merupakan Warga Negara Indonesia yang tinggal di Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Arab Saudi, saat buku ini ditulis. Isinya berupa catatan-catatan selama beliau bermukim di sana. Karena itu, sebagian tulisan terasa cukup familiar bagi saya, sebab sebelumnya pernah saya baca melalui status media sosial penulisnya.
Di dalam buku ini terdapat banyak judul yang berkaitan dengan kehidupan di Arab Saudi, seperti budaya kopi, cadar bagi perempuan Saudi, rokok dan jenggot di Saudi, isbal, ketatnya aturan lalu lintas, hingga fenomena sound horeg di Saudi.
Selain itu, pembaca juga diajak mengkaji berbagai persoalan keagamaan dengan cara yang ringan dan mudah dipahami, di antaranya: melepas cincin saat wudhu, memajang foto raja, mengubah niat shalat, sedekah untuk orang kafir, serta membaca Al-Fatihah bagi makmum. Sebagian besar pembahasan tersebut dirangkum oleh penulis dari sesi tanya jawab di Radio Idza’atul Qur’an.
Ada pula tema-tema unik yang berpotensi menimbulkan salah paham, seperti istilah “pijat plus-plus” di Saudi dan “tempat ciuman” di Saudi. Tema-tema tersebut dijelaskan dengan sudut pandang yang benar sehingga tidak menyesatkan pembaca.
Secara umum, buku ini sangat layak dibaca karena mengandung banyak hikmah. Adapun sebagai catatan perbaikan, karena sebagian tulisan berasal dari status media sosial yang bernuansa santai, masih ditemukan beberapa kata tidak baku seperti “gak”, “mbatin”, dan sejenisnya.
Selain itu, terdapat ketidakkonsistenan dalam penggunaan tanda baca, penulisan dialog yang menggunakan tanda titik dua alih-alih koma, penggunaan tanda baca ganda, serta format subjudul yang kadang ditebalkan dan kadang tidak.
Akan lebih bermakna pula apabila setiap cerita disertai hikmah atau refleksi penutup, karena tidak semua tulisan dilengkapi dengan bagian tersebut.
Meski demikian, secara keseluruhan buku ini sayang untuk dilewatkan. Membacanya serasa sedang scroll Facebook: sangat ringan, mengalir, tetapi sarat dengan hikmah yang bisa kita petik. (ahmas nasri – kontributor sukoharjo)
