Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, menyampaikan tahniah atas Milad ke-94 Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) yang diperingati pada Jumat (16/5/2025).
Dalam pernyataannya, Haedar menekankan bahwa momentum Milad bukan sekadar seremonial, tetapi harus menjadi energi penggerak yang nyata bagi seluruh kader dan pimpinan NA dari pusat hingga ranting.
“Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saya menyampaikan tahniah dan selamat atas Milad ke-94 Nasyiatul ‘Aisyiyah. Milad ini mengambil tema ‘Perempuan Tangguh Cerahkan Peradaban’, sebuah tema yang sangat besar dan penuh tantangan,” ungkap Haedar.
Haedar mendorong NA untuk terus meningkatkan kualitas gerakan serta daya jangkau program-program yang selama ini telah diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) serta hasil-hasil muktamar. Menurutnya, kualitas pergerakan bukan hanya terletak pada seberapa sering organisasi menggelar acara, namun pada sejauh mana program tersebut menyentuh kebutuhan masyarakat secara konkret dan berdampak luas.
“Kualitas dan gerak sentrifugal itu menunjukkan NA sebagai kekuatan yang mengedepankan kegiatan nyata sebagai hasil dari program-programnya. Dengan demikian, NA akan memiliki tolok ukur dalam setiap langkah pergerakannya,” jelas Haedar.
Ia menegaskan bahwa dengan kualitas dan semangat pergerakan yang tinggi, NA akan mampu bersaing dengan organisasi perempuan lainnya, baik dalam lingkup nasional maupun global, dalam konteks keagamaan dan kemasyarakatan.
Milad sebagai Momentum Pemacu
Lebih lanjut, Haedar mengingatkan bahwa Milad seharusnya menjadi kekuatan pemacu gerakan. “Milad tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial tahunan. Ia harus menjadi titik tolak untuk merefleksi, memperbaiki, dan memperkuat arah gerakan,” terangnya.
Ia juga menyoroti pentingnya ikhtiar berkelanjutan dalam mewujudkan tema besar yang diusung NA. Ketangguhan perempuan tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang memerlukan konsistensi (mudawamah) dan komitmen berkelanjutan dari para kader.
“Ketangguhan itu mencakup tiga hal utama: ketangguhan sumber daya insani, ketangguhan sistem gerakan, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan—baik dalam skala lokal maupun global,” tambahnya.
Tantangan Era Digital dan AI
Dalam konteks perkembangan zaman, Haedar menyoroti tantangan besar yang dihadapi NA dan generasi muda saat ini, yakni revolusi digital, ledakan informasi, serta hadirnya Artificial Intelligence (AI). Namun, menurutnya, kekuatan manusia tetap memiliki keunggulan jika potensi akal dan spiritualnya dimaksimalkan.
“Kita memang berhadapan dengan AI, tapi kekuatan manusia dapat melampauinya. Potensi besar berupa akal pikiran, kemampuan untuk berilmu, dan kesadaran spiritual adalah anugerah Tuhan yang tak tergantikan. Maka iman dan ilmu harus menjadi satu kesatuan dalam gerak peradaban kita,” papar Haedar.
Ia menegaskan bahwa peradaban tinggi bukan semata hasil kemajuan teknologi, tetapi puncak dari kebudayaan manusia yang dibentuk oleh sistem pengetahuan kolektif. Dalam hal ini, NA harus membangun budaya cinta ilmu, semangat membaca, dan dorongan kuat menuju kemajuan.
“Jika kader NA mencintai ilmu, membaca, dan kemajuan, maka membangun peradaban akan menjadi proses yang realistis dan bertahap—bukan sekadar wacana kosong atau retorika belaka,” ujarnya.
Kunci Gerakan: Ikhlas, Berkhidmat, dan Meraih Rida Allah
Mengakhiri pesannya, Haedar menegaskan bahwa gerakan apa pun yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan harus berpijak pada keikhlasan, semangat penghidmatan, dan tujuan untuk meraih rida Allah SWT. Ini adalah fondasi spiritual yang harus terus diperkuat dalam setiap langkah NA.
“Akhirnya, bahwa pergerakan mana pun yang mempunyai landasan keagamaan, kunci utamanya adalah keikhlasan, penghidmatan, dan tujuan untuk meraih rida serta karunia Allah. Maka para kader dan pimpinan Nasyiatul ‘Aisyiyah harus terus bergerak dengan spirit ikhlas, semangat untuk berkhidmat, dan melangkah lebih jauh untuk meraih rida dan karunia Allah,” pungkas Haedar. (bhisma)
