Haedar Nashir Nikmati Soto Super Enak di Kuala Lumpur, Karya Diaspora Muhammadiyah

www.majelistabligh.id -

Di jantung kawasan Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia, aroma khas rempah-rempah Nusantara menyeruak dari sebuah warung sederhana yang dinamai Wasola, singkatan dari Warung Soto Lamongan.

Warung itu bukan sekadar tempat makan biasa, melainkan simbol dari etos kemandirian dan semangat kewirausahaan warga Muhammadiyah di luar negeri—tepatnya milik Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.

Pada Selasa (6/5/2025), Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, berkesempatan mengunjungi Wasola bersama rombongan penting dari Indonesia.

Dalam rombongan tersebut turut hadir Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman, Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, Bendahara Umum PP Pemuda Muhammadiyah Machhendra Setya Atmaja, Rektor Universitas Aisyiyah Yogyakarta Warsiti, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon Arif Nurudin.

Setelah mencicipi semangkuk Soto Lamongan yang menjadi menu andalan Wasola, Haedar Nashir tak ragu melontarkan pujian tulus.

“Sotonya luar biasa enak, bahkan super enak,” ujarnya penuh semangat. Pujian ini bukan basa-basi, melainkan pengakuan tulus atas cita rasa otentik soto khas Jawa Timur yang mampu menembus batas geografis dan budaya.

Wasola tak hanya menyajikan soto. Warung ini juga menawarkan berbagai kuliner khas Indonesia lainnya seperti mangut lele, rawon, sate kambing, bahkan sajian lokal seperti roti canai dan aneka minuman segar.

Menu yang beragam ini menjadikan Wasola tak hanya digemari warga Indonesia di Malaysia, tetapi juga mulai mendapat tempat di hati warga lokal dan wisatawan mancanegara.

Haedar menyebut kehadiran Wasola sebagai wujud konkret dari kemandirian ekonomi warga Muhammadiyah di perantauan.

Dia menyambut baik upaya PCIM Malaysia yang tidak hanya berdakwah melalui kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi juga melalui jalur ekonomi kreatif.

Tak lupa, ia menyampaikan harapan agar Wasola bisa membuka cabang-cabang baru di berbagai titik di Malaysia.

“Kalau bisa jangan hanya satu. Saya berharap nanti ada Wasola satu, dua, sampai sepuluh atau sebelas, sesuai jumlah ranting istimewa yang dimiliki PCIM,” ungkap Haedar.

Optimisme itu juga didukung oleh keberadaan gedung Ruhama yang telah menjadi pusat kegiatan dakwah Muhammadiyah di Malaysia.

Dengan infrastruktur dan semangat berkemajuan yang dimiliki, Haedar yakin PCIM Malaysia bisa memperluas cakupan usahanya, tidak hanya dalam bentuk rumah makan, tetapi juga bisnis-bisnis lain yang sesuai dengan potensi yang dimiliki warga Muhammadiyah di Negeri Jiran.

Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, juga turut menikmati kelezatan soto yang disajikan di Wasola. “Ini soto terenak yang pernah saya coba,” ujarnya jujur.

Sayangnya, ia belum sempat mencicipi sate kambing andalan Wasola karena harus segera menuju bandara. Meski begitu, ia berjanji akan kembali jika ada kesempatan dan berharap PCIM-PCIA terus mengembangkan semangat ekonomi yang berkemajuan.

Di balik racikan soto yang menggugah selera itu, ada tangan-tangan terampil seperti Feni, salah satu juru masak andalan Wasola.

Dia menceritakan bahwa resep soto yang digunakan merupakan warisan langsung dari ibunya di Lamongan. “Ibu saya memang asli Lamongan, dan sejak di kampung sudah biasa memasak soto. Jadi ini resep turun-temurun,” ujar Feni dengan senyum bangga.

Wasola berlokasi strategis di Jalan Raja Alang, Chow Kit, Kampung Baru—tidak jauh dari Tamu Hotel. Buka mulai pukul 8 pagi, Wasola mulai menyajikan menu lengkap sekitar pukul 10.00 waktu setempat.

Lokasinya yang mudah dijangkau membuatnya menjadi tempat favorit baik bagi perantau Indonesia, pelancong, maupun warga lokal yang rindu rasa Nusantara.

Lebih dari sekadar tempat makan, Wasola adalah simbol dari keteguhan, kreativitas, dan komitmen warga Muhammadiyah untuk menghadirkan dakwah dalam bentuk yang lebih inklusif.

Di tengah riuhnya kota metropolitan Kuala Lumpur, Soto Lamongan menjadi jembatan budaya dan cita rasa, sekaligus pengingat bahwa identitas dan semangat juang bisa dibawa ke mana saja, bahkan lintas negara. (*/wh)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search