Haedar Nashir: Tiga Solusi agar Agama Tak Tergerus Zaman

Haedar Nashir, saat meluncurkan buku “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” karya Dadang Kahmad. (ist)
www.majelistabligh.id -

Agama tidak akan pernah kehilangan relevansinya di tengah arus modernisasi dan sekularisasi. Namun, syarat utamanya adalah umat beragama harus mampu mengadaptasi nilai-nilai agama agar hadir secara nyata dan menyejahterakan kehidupan masyarakat modern.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat meluncurkan buku “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” karya Dadang Kahmad di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Senin (5/10/2026).

Momentum peluncuran buku terbitan Suara Muhammadiyah ini sekaligus menjadi ajang perayaan milad ke-74 Dadang Kahmad, yang dinilai Haedar memiliki kapasitas sosiologis dan akademis yang kuat dalam mengkaji dinamika keagamaan.

Haedar menekankan bahwa tantangan terbesar umat saat ini bukanlah laju perubahan zaman, melainkan kemampuan menerjemahkan ajaran agama ke dalam realitas sosial. Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menawarkan tiga langkah strategis:

  • Agama sebagai Canopy Suci Modernitas: Di tengah kehidupan yang makin rasional dan didominasi teknologi, nilai agama harus hadir memberikan arah moral sekaligus mengobati kegersangan spiritual.
  • Merangkul Generasi Muda: Organisasi keagamaan wajib memahami karakter generasi muda yang rasional. Salah satu contoh pintunya adalah penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menawarkan kepastian waktu ibadah secara presisi.
  • Solusi Nyata atas Isu Modern (Termasuk AI): Agama tidak boleh berhenti pada dogma normatif, melainkan harus menjawab persoalan konkrit, termasuk pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). “AI begitu digdaya. Jangan sampai manusia justru merasa rendah diri di hadapan teknologi yang diciptakannya sendiri,” tegas Haedar.

Lebih lanjut, Haedar mendorong Muhammadiyah memperbanyak kajian futuristik agar mampu mengantisipasi berbagai tantangan sebelum menjadi krisis. Ia juga mengingatkan bahwa keberagamaan harus tecermin dalam perilaku sosial sehari-hari. “Kalau tokoh dan umat beragama kurang baik, dibungkus apa pun, ya kelihatan tidak baik,” selorohnya.

Sejalan dengan hal itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Ahmad Dahlan, menyebut gagasan dalam buku ini menjadi alarm sekaligus pemantik bagi PWM Jabar untuk terus berbenah.

Menurutnya, Muhammadiyah tidak bisa sekadar bertumpu pada pencapaian masa lalu, melainkan harus terus merumuskan langkah strategis menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peluncuran buku ini dihadiri jajaran PP Muhammadiyah seperti Anwar Abbas dan Izzul Muslimin, Sekjen MUI Pusat Amirsyah Tambunan, Staf Khusus Mendasmen Muchlas Rowi, serta sederet rektor PTMA dan perguruan tinggi negeri, di antaranya Rektor Uhamka, UAD, UMC, UMMI, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search