Haedar Nashir Ungkap Syarat Utama Memimpin Muhammadiyah

Haedar Nashir Ungkap Syarat Utama Memimpin Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan Artificial Intelligence (AI), Muhammadiyah menekankan pentingnya model kepemimpinan yang tidak hanya responsif terhadap zaman, tetapi juga teguh berakar pada nilai-nilai spiritual.

Konsep Religious Transformational Leadership atau Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan dinilai menjadi pijakan utama dalam menggerakkan Persyarikatan ke depan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat menyampaikan pandangannya di Unisa Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).

Haedar menjelaskan bahwa berbeda dari teori kepemimpinan transformasional umum, model kepemimpinan berkemajuan memiliki distingsi kuat pada penanaman nilai keagamaan (qimah). Nilai ini mencakup pemahaman etis tentang benar-salah, pantas-tidak pantas, serta pandangan hidup yang utuh antara dunia dan akhirat.

Karakter kepemimpinan ini dinilai sangat relevan dalam merespons disrupsi teknologi. Menghadapi AI yang kian meminggirkan peran manusia, Muhammadiyah menawarkan pendekatan adaptif tanpa mengorbankan martabat kemanusiaan.

“Kita tidak menolak AI, tetapi manusia harus tetap memiliki kesadaran dan kemandirian agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi. Dari sinilah lahir kepemimpinan hibrida (hybrid leadership), yakni perpaduan antara human leadership dan AI leadership,” ujar Haedar.

Menurutnya, model hybrid leadership ini menjadi solusi agar pemimpin mampu mengambil keputusan secara cepat dan bijak tanpa menjadikan manusia sebagai ‘tawanan’ teknologi.

Lebih lanjut, Haedar menekankan bahwa memimpin di lingkungan keagamaan dan Persyarikatan menuntut penguasaan dua dimensi sekaligus: keunggulan rasional-teknologis serta kedalaman spiritual yang merujuk pada Manhaj Tarjih. Oleh karena itu, para pemimpin diimbau untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan tidak cepat merasa puas.

“Jangan merasa mudah memimpin hanya karena punya ilmu atau menduduki jabatan. Memimpin Muhammadiyah membutuhkan proses panjang yang membentuk kearifan (wisdom). Pemimpin berkemajuan bukan sekadar mengandalkan struktur dan ilmu, melainkan juga hikmah,” tegasnya.

Sebagai penutup, Haedar mengingatkan dua prinsip penting yang wajib dimiliki setiap kader pemimpin Persyarikatan, yakni wiqoyah (sikap waspada dan berhati-hati dalam bertindak/berucap) serta muhasabah (sikap reflektif dan gemar merenungkan pembelajaran).

“Dengan wiqoyah dan muhasabah, kita dapat membawa Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, umat, dan bangsa ke arah yang lebih baik, hingga membawa manfaat bagi semesta,” pungkas Haedar. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search