Halalbihalal: Cuma Formalitas?

Halalbihalal: Cuma Formalitas?
*) Oleh : Dr. Muhammad Nasri Dini
Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Belakangan ini, di tempat kami sempat muncul suara miring yang ditujukan kepada pimpinan persyarikatan. Halalbihalal dianggap hanya sekadar formalitas yang merugikan karena membuat sekolah harus diliburkan. Namun, jika kita telisik lebih dalam, pandangan tersebut sangat layak untuk diluruskan karena jadwal pelaksanaannya pun sebenarnya tidak bisa ditentukan secara sepihak.

Ketersediaan waktu dari pembicara atau tokoh yang diundang sering kali menjadi pertimbangan utama, sehingga sangat wajar apabila tanggal yang terpilih tidak selalu terasa “menyenangkan” bagi semua pihak.

Ketidaknyamanan soal jadwal ini tentu tidak lantas membuat nilai halalbihalal menjadi rendah, sebab menganggapnya sebagai formalitas belaka adalah sebuah kekeliruan besar. Momen ini justru menjadi ruang krusial untuk menyambung silaturahmi sekaligus melakukan konsolidasi organisasi, bukan sekadar basa-basi tanpa arti. Kekhawatiran mengenai siswa yang terpaksa libur pun sebenarnya tidak perlu berlebihan, mengingat peristiwa ini tidak terjadi berulang kali, melainkan hanya sehari dalam setahun. Cuma sekali, bos!

Lebih dari sekadar pertemuan rutin, halalbihalal merupakan warisan budaya Nusantara yang unik dan tidak ditemukan di negara lain. Dalam praktiknya, kita bisa melihat betapa cerianya para guru saat berkumpul, apalagi dengan banyaknya doorprize yang disediakan.

Menghapus tradisi ini sama saja dengan mengurangi kebahagiaan mereka. Kebahagiaan tersebut pun meluap hingga ke sektor ekonomi, terutama pada momen halalbihalal akbar tingkat kabupaten. Kehadiran stan-stan UMKM di sana menjadi penggerak ekonomi bagi para pelaku usaha warga Muhammadiyah, sekaligus membuka lebar prospek kemitraan usaha.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa halalbihalal bukanlah acara seremonial kosong. Benar bahwa ini adalah acara formal, tetapi jelas bukan formalitas. Ia adalah ruang untuk merajut kembali yang sempat renggang, memperkuat yang telah terjalin, dan membangun semangat kolektif pasca-Ramadan. Meskipun hanya dilaksanakan sekali setahun, semoga dampak positifnya tetap terasa sepanjang waktu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search