”Apologizing does not lower your dignity, and giving forgiveness will not reduce your honor. In fact, in the sincerity of forgiveness, true nobility of the soul is stored.”
“(Meminta maaf tidak merendahkan martabatmu, dan memberi maaf tidak akan mengurangi kehormatanmu. Justru di dalam ketulusan maaf, tersimpan kemuliaan jiwa yang sejati)”
Halalbihalal merupakan kristalisasi ajaran Islam yang membumi di Nusantara, sebuah jembatan yang menghubungkan dimensi spiritual vertikal dengan keharmonisan horizontal.
Secara filosofis, momentum ini adalah instrumen ishlah (perbaikan hubungan) untuk merobohkan sekat kesombongan yang terbangun akibat khilaf dan lisan yang tak terjaga. Allah SWT berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“(QS. Al-A’raf: 199).
Memberi maaf (Al-afwa) bukan sekadar melupakan, melainkan melepaskan beban kebencian agar hati kembali pada kesucian (fitrah). Hal ini dipertegas dengan aksi simbolis berjabat tangan yang mampu menggugurkan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا
“Tidaklah dua muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud No. 5212).
Sebagai manusia yang bersifat Al-khatha’ (tempatnya salah), kesadaran untuk bertaubat dan meminta kehalalan atas kezaliman di dunia adalah sebuah keniscayaan sebelum datangnya hari pembalasan. Rasulullah SAW mengingatkan:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat.” (HR. Ibnu Majah No. 2498). Beliau juga berpesan:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya hari ini…” (HR. Bukhari No.2269 ).
Inti dari Halalbihalal adalah keikhlasan, sebab tanpa ketulusan, jabat tangan hanyalah gerak fisik tanpa makna. Maaf yang sejati akan mengubah kebencian menjadi kasih sayang, karena memaafkan adalah cara terbaik untuk berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang mampu menahan amarah:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“(QS. Ali Imran: 134).
Mari kita jadikan Idulfitri sebagai titik balik untuk merajut kembali tali persaudaraan yang sempat kusut. Kesalehan kita tidak hanya diukur dari sujud di atas sajadah, tetapi juga dari kelapangan dada dalam merangkul sesama.
Semoga bermanfaat.
