Hanya Satu Persinggahan

Hanya Satu Persinggahan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Kalimat “Hanya satu persinggahan” begitu singkat namun sarat makna. Ia bisa menjadi metafora yang mendalam tentang kehidupan, perjalanan, cinta, atau bahkan misi spiritual. Mari kita eksplorasi beberapa kemungkinan makna dan konteksnya:

Hidup sebagai perjalanan
* Kehidupan dunia hanyalah satu persinggahan dalam perjalanan menuju akhirat. Dalam perspektif Qur’ani, dunia ini bukan tujuan akhir, melainkan tempat transit untuk mengumpulkan bekal.

* Seperti musafir yang singgah di sebuah tempat untuk beristirahat, kita pun hanya sementara di dunia ini. Maka, jangan terlalu melekat pada kenyamanan dunia.

“Jadilah di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” — Hadis Nabi Muhammad SAW.

Dalam Konteks Cinta atau Relasi
* “Hanya satu persinggahan” bisa menggambarkan seseorang yang hadir sebentar dalam hidup kita, memberi makna, lalu pergi.
* Bisa juga menjadi refleksi bahwa hubungan itu bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan.

Dalam konteks misi atau tugas
* Seseorang yang menjalankan satu tugas penting, lalu melanjutkan perjalanan ke misi berikutnya.
* Cocok untuk menggambarkan pemimpin, guru, atau aktivis yang hadir untuk menyalakan cahaya, lalu berpindah ke tempat lain.

Jika diolah menjadi puisi pendek:
Hanya satu persinggahan
Di antara ribuan langkah
Aku tak datang untuk tinggal
Hanya menitipkan cahaya
Lalu pergi, seperti fajar

Ayat yang paling kuat menggambarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah satu persinggahan sementara adalah Surat Al-Hadid ayat 20. Ayat ini menegaskan bahwa dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat transit penuh ilusi sebelum akhirat yang kekal.
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Ayat ini melukiskan dunia sebagai:
* Permainan dan senda gurau – tidak serius, tidak kekal
* Perhiasan dan kebanggaan – tampak indah tapi fana
* Persaingan dalam harta dan keturunan – ilusi yang cepat berlalu
Allah kemudian menggambarkan dunia seperti tanaman yang tumbuh subur, lalu layu dan menjadi hancur. Di akhir ayat, Allah menegaskan:

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

“Hanya Satu Persinggahan”
• Dunia adalah terminal transit, bukan destinasi utama.
• Seperti musafir yang singgah sebentar, kita pun hanya mampir untuk mengumpulkan bekal.
• Ayat ini mengajak kita untuk tidak tertipu oleh gemerlap dunia, dan fokus pada akhirat sebagai tujuan sejati.

Ayat Pendukung Lain
• QS. Al-Ankabut: 64
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.

• QS. Yunus: 24
اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْاَنْعَامُ ۗحَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Artinya: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search