Hanya Sebuah Mimpi: Rusuh 10 November 2026

Hanya Sebuah Mimpi: Rusuh 10 November 2026
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Siang itu terasa panas meski berada di Kota Batu, lokasi yang dikenal sejuk, bahkan cenderung dingin. Beberapa kali menguap, yang membawa saya melangkah ke tenda kemah, sedikit rebahan, tapi akhirnya terlelap.

***

Negeri Nusantara ini tampaknya tidak pernah kekurangan bahan bakar untuk memproduksi drama politik kelas kakap. Belum juga penonton selesai mengunyah popcorn dari babak-babak sebelumnya, layar bioskop politik tanah air kini sudah bersiap menayangkan sekuel baru yang tak kalah seru: dugaan skenario makar berbungkus Hari Pahlawan, lengkap dengan plot twist, aktor bermuka dua, hingga bumbu-bumbu konspirasi ala detektif amatir. Kalimat ”dua tahun Prabowo” seakan sudah waktunya.

Di tengah suasana yang sudah cukup panas berkat dinamika hukum—termasuk kabar heboh penahanan mantan Kapolri Jenderal (Purn) Listyo Sigit Prabowo, di mana Jokowi sendiri sedang berada di Jakarta untuk urusan persidangan—panggung nasional mendadak riuh oleh isu rencana perjalanan Presiden Prabowo Subianto ke Turki untuk menghadiri KTT COP31 di Antalya.

Dan di sinilah, kawan, seni memelintir fakta mulai dimainkan.

“Dinas Luar Negeri” Diubah Jadi “Presiden Kabur”

Namanya juga buzzer, kalau tidak kreatif mencari bahan hoaks, tentu dapur mereka kurang ngebul. Agenda resmi presiden memenuhi undangan Presiden Erdogan langsung dipelintir sedemikian rupa. Narasi murahan disebar: “Wah, presiden lari, kabur!” Padahal, beliau berangkat demi mencari suplai energi baru untuk negeri ini, di saat jalur-jalur lama mulai seret dan diboikot.

Sementara sang nakhoda terbang ke luar negeri, di dalam negeri para juru strategi bayangan—yang akrab disebut-sebut sebagai “Genk Solo”—dikabarkan mulai sibuk merajut benang kekuasaan. Puncaknya? Sengaja diarahkan tepat pada tanggal 10 November, Hari Pahlawan. Sebuah tanggal sakral yang, harusnya diisi dengan renungan suci, malah mau dibajak jadi panggung kerusuhan massal.

Pola Klasik: Anak STM Jadi “Korban di Depan”

Kalau kita perhatikan skenario lapangannya, sepertinya para sutradara di balik layar ini kurang piknik, sehingga ide cerita mereka template banget.

Pola lamanya selalu sama:

  1. Massa bayaran dikondisikan.
  2. Anak-anak SMK atau STM kembali disuruh maju paling depan sebagai “mortir awal” unjuk rasa.
  3. Kelompok besar menyusul belakangan, sementara sang dalang tentu saja duduk manis sambil ngopi di ruangan ber-AC sejuk.

Anak-anak muda ini dikorbankan di aspal jalanan, sementara para aktor intelektualnya tinggal menunggu laporan di grup WhatsApp. Konon, kalau mau melacak siapa dalangnya, tinggal cek saja mutasi rekening orang-orang terdekat lingkaran lama. Wong uang itu tidak pernah bisa bohong, kok.

Jika chaos berhasil diciptakan, skenarionya pun terbilang rapi: beberapa menteri dari lingkaran lama mendadak “mengundurkan diri” secara dramatis, lalu bergabung ke tengah demonstran.

Ada pula menteri koboi mantan “partai coklat” yang kabur-kabur dikabarkan siap mengamankan narasi transisi kekuasaan. Gedung DPR/MPR disasar, simbol-simbol negara dicoba diduduki, tujuannya cuma satu: mengantar sang “anak mahkota” naik tahta, sementara para oligarki berpesta pora merayakan wajah baru dalam negeri.

Menghitung Kaki Meja di Istana

Tentu saja, gerakan semacam ini tidak mungkin jalan sendiri. Analisis spekulatif menyebutkan ada kolaborasi lintas sektoral yang luar biasa gemuk: mulai dari tokoh sipil, pemuka agama, kampus, sang “naga” penyandang dana, proksi lokal, hingga bisik-bisik kepentingan asing yang ikut nimbrung memanaskan suasana.

Ini adalah peringatan dini sekaligus sindiran keras bagi pemegang kekuasaan. Sebelum terbang ke luar negeri, bersih-bersih rumah adalah kunci. Singkirkan mereka yang bermuka dua, termasuk di tubuh militer dan kepolisian. Jangan sampai ada yang di depan tersenyum manis sambil bersalaman, tapi di belakang sibuk menghitung hari dan birahi mengejar jabatan.

Kalau peringatan semacam ini dianggap angin lalu dan hanya dianggap sebagai angin parodi, ya silakan saja. Tapi ingat, di atas papan catur politik, orang yang menyepelekan langkah kecil di belakangnya biasanya adalah orang pertama yang kebingungan ketika rajanya disekakmat.

Pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan: apakah semua analisis ini sekadar bentuk paranoid akut akibat terlalu banyak minum kopi malam-malam, ataukah sebuah peta jalan makar yang dibaca terlalu cepat sebelum sempat disembunyikan?

***

Tiba-tiba suara azan bergema dari balik layar ponsel. Ya…azan Ashar. Seketika terbangun, ternyata saya mimpi di siang bolong. Mimpi yang sangat konstruktif. Ah…Sudahlah. Kembang Tidur. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search