Hari pertama Ramadan biasanya penuh semangat. Hari kedua mulai terasa perjuangannya. Dan kini, kita sampai di hari ketiga merupakan fase di mana tubuh mulai beradaptasi, dan hati perlahan menemukan ritme ibadahnya.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang kepada Allah, pulang kepada nurani, pulang kepada versi terbaik diri kita.
Di hari ketiga, sebagian orang mulai merasakan perubahan. Bangun sahur tak lagi seberat hari pertama. Rasa haus di siang hari mulai bisa dikendalikan. Jadwal ibadah mulai tersusun rapi.
Inilah tanda bahwa manusia sejatinya makhluk yang bisa beradaptasi dengan kebaikan. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Kata “agar kamu bertakwa” menjadi tujuan utama. Artinya, puasa bukan sekadar ritual, tapi proses pembentukan karakter. Di hari ketiga ini, kita mulai merasakan bahwa puasa melatih kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri.
Menata Niat, Bukan Sekadar Menahan Lapar
Hari ketiga adalah momentum untuk mengevaluasi niat. Apakah puasa kita masih penuh semangat seperti hari pertama Apakah salat tarawih masih khusyuk atau mulai tergesa-gesa? Apakah tilawah masih terjaga atau mulai tertunda?
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat “dengan iman dan mengharap pahala” adalah kuncinya. Bukan sekadar menahan diri, tetapi menghadirkan hati dalam setiap ibadah.
Ramadan Adalah Sekolah Jiwa
Jika Ramadan adalah sekolah, maka hari ketiga adalah fase pembiasaan. Kita sedang dilatih untuk menahan amarah saat emosi datang, menjaga lisan dari kata yang menyakitkan, mengurangi keluhan dan memperbanyak syukur, menghidupkan malam dengan doa.
Mungkin di antara kita ada yang masih bekerja keras dari pagi hingga sore. Ada guru yang tetap mengajar dengan penuh energi. Ada orang tua yang tetap mengurus keluarga dengan sabar. Ada anak-anak yang belajar puasa dengan wajah ceria meski kadang mengeluh haus. Semua itu adalah pahala. Semua itu adalah latihan ketakwaan.
Ramadan bukan lomba lari cepat, tetapi perjalanan panjang selama sebulan. Jangan sampai kita kuat di awal, namun lemah di pertengahan.
Hari ketiga adalah pengingat, Jika hari ini sudah terasa biasa saja, maka tambahkan sesuatu yang istimewa. Tambahkan satu halaman tilawah. Tambahkan satu doa khusus untuk orang tua.
Tambahkan satu sedekah kecil yang mungkin tak diketahui siapa pun. Karena boleh jadi, bukan banyaknya amal yang dilihat Allah, tetapi keikhlasan yang menyertainya.
Hari ketiga ini mungkin tampak sederhana. Namun ia adalah bagian dari perjalanan menuju ampunan dan rahmat Allah. Jangan biarkan ia berlalu tanpa makna.
Mari jadikan hari ketiga sebagai titik penguatan niat, bahwa kita tidak hanya ingin “menjalani” Ramadan, tetapi ingin berubah bersama Ramadan.
Semoga di hari ketiga ini, hati kita semakin lembut, doa kita semakin tulus, dan langkah kita semakin dekat kepada Allah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. ###
