Pujian bisa menjadi ujian, sementara kritik seringkali menjadi jalan perbaikan. Hati – hati terhadap pujian, sebab pujian membuat stagnan. Jangan takut kritik, karena kritik justru membuat kita berproses.
Pujian itu seperti madu manis di lidah, tapi bisa memabukkan jiwa jika tidak hati-hati. Dalam tradisi Islam dan kebijaksanaan para ulama, kita diajarkan untuk waspada terhadap pujian karena ia bisa menjadi pintu masuk bagi penyakit hati seperti ujub (bangga diri), riya’ (pamer), dan takabbur (sombong).
Mengapa Harus Waspada terhadap Pujian?
* Pujian bisa menipu persepsi diri
Seperti kata Abu Bakr Ash-Shiddiq, “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui.”
* Pujian bisa memotong leher spiritual
Rasulullah ﷺ bersabda, “Celaka kamu! Sesungguhnya kamu telah memotong leher temanmu,” ketika seseorang memuji berlebihan di hadapan beliau.
* Pujian bisa memancing syaitan
Jika tidak disikapi dengan tawadhu’, pujian bisa menjadi celah bagi syaitan untuk menanam kesombongan dan rasa lebih baik dari orang lain.
* Pujian bukan ukuran hakiki
Seperti dikatakan oleh Muhammad bin Wasi’, “Pujian manusia tidak ada gunanya jika tangan dan kakiku dibelenggu lalu aku dilemparkan ke neraka.”
Sikap Bijak terhadap Pujian
* Kembalikan pujian kepada Allah
Ingat bahwa segala kelebihan adalah karunia-Nya. Ucapkan Alhamdulillah dan jangan merasa itu milik kita sepenuhnya.
* Baca doa ketika dipuji
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini agar kita tidak terjebak dalam pujian:
اللّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّي بِنَفْسِي، وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ،
اللّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لاَ يَعْلَمُونَ،
وَلاَ تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ
“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka, ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku karena ucapan mereka.”
* Sembunyikan amal baik
Seperti pesan Bisyr bin Harits: “Sembunyikan kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.”
Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang secara tidak langsung mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap pujian, terutama dalam konteks menjaga keikhlasan dan tidak terjebak dalam penilaian manusia. Berikut beberapa ayat yang relevan:
1. QS. Az-Zumar: 11
قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.
Ayat ini menekankan bahwa ibadah dan amal harus dilakukan dengan ikhlas, bukan karena ingin dipuji atau dilihat orang
2. QS. Al-Baqoroh: 264
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.
Ayat ini memperingatkan agar amal tidak dilakukan karena ingin dipuji (riya), karena itu bisa menghapus pahala.
3. QS. Al-Insan: 9
اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا
(Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.
Ini adalah potret keikhlasan yang murni—amal dilakukan tanpa mengharap pujian atau balasan dari manusia.
4. QS. Al-Kahfi: 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
Larangan mempersekutukan dalam ibadah mencakup juga niat yang bercampur dengan ingin dipuji manusia.
