Perilaku manusia bersumber dari hati, karena hati merupakan poros dari setiap perbuatan dan ucapan seseorang. Ketika hati berada dalam keadaan baik, maka apa yang dilakukan dan diucapkan pun akan mencerminkan kebaikan.
Sebaliknya, apabila seseorang melakukan, mengucapkan, atau memikirkan hal-hal yang kotor dan kurang baik, hal itu menandakan bahwa hatinya sedang dalam keadaan keruh.
Karena itulah, orang-orang bijak mengibaratkan hati seperti sebuah teko. Apa pun yang keluar darinya adalah apa yang ada di dalamnya. Jika teko itu berisi air susu, maka yang keluar pun air susu; ia tidak mungkin mengeluarkan kopi atau minuman lainnya. Hal ini sejalan dengan petuah bijak Arab yang mengatakan:
كل إناء بما فيه ينضح
“Setiap bejana hanya akan menumpahkan apa yang ditampungnya.”
Maka, menjaga hati menjadi sesuatu yang sangat penting. Hati yang baik dan sehat tidak hadir dengan sendirinya, melainkan perlu dirawat, dijaga, dan dididik secara terus-menerus.
Barangsiapa yang senantiasa memperhatikan keadaan hatinya—dengan merawat, menjaga, dan men-tarbiyah-nya—niscaya ia akan lebih mudah untuk istiqamah dalam bertaqarrub kepada Allah. Amal perbuatannya akan memancarkan cahaya kebaikan, serta membuahkan kebahagiaan, kelapangan jiwa, dan kelezatan dalam menjalani kehidupan. Sebuah kebahagiaan yang tidak dapat diukur, apalagi diungkapkan dengan kata-kata.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
