Hidup Adalah Pilihan Prasangka: Kunci Rahasia Hubungan dengan Allah

Hidup Adalah Pilihan Prasangka: Kunci Rahasia Hubungan dengan Allah
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“Life is a Choice, and Your Biggest Choice is Your Prejudice”
“(Hidup adalah Pilihan, dan Pilihan terbesarmu adalah Prasangkamu)”

​Hidup yang kita jalani sesungguhnya adalah cerminan prasangka kita terhadap Allah dan takdir-Nya. Inilah rahasia agung yang membuka pintu rahmat dan kebaikan. Apa pun yang terjadi, baik itu ujian maupun nikmat, semuanya berpulang pada bagaimana hati kita menyambutnya.

​Jika kita berprasangka bahwa ujian dari Allah adalah jalan untuk mengampuni dosa, maka ia benar-benar menjadi pelebur dosa. ​Jika kita berprasangka bahwa kesulitan yang diberikan adalah cara Allah mengangkat derajat kita di sisi-Nya, maka ketinggian martabatlah yang kita raih.
Jika kita yakin bahwa setiap tantangan adalah isyarat akan kejutan-kejutan indah (kebaikan) di masa depan, maka masa depan itu akan menghadirkan kegembiraan.

​Prinsip ini berakar kuat dalam ajaran Islam. Dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي…)
Artinya:
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku….” (HR. Bukhari No. 6970 dan Muslim No. 2675)

Hadis tersebut memiliki arti bahwa Allah akan memberikan balasan sesuai dengan prasangka (sangkaan baik atau buruk) yang dimiliki seorang hamba terhadap-Nya. Jika hamba berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan memberikan kebaikan. Sebaliknya, jika hamba berprasangka buruk, maka akan mendapatkan keburukan.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw tiga hari sebelum wafatnya bersabda,
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
Artinya:
Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus berhusnuzan pada Allah.” (HR. Muslim No. 2877)

Ini menunjukkan bahwa husnuzan (prasangka baik) adalah ibadah mulia. Dalam konteks ujian, berprasangka baik berarti meyakini bahwa di balik setiap ketetapan-Nya, selalu ada kebaikan dan kasih sayang yang tersembunyi, Sebagaimana firman Allah,
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Qs. Al-Baqarah: 216)

​Maka, pilihlah prasangka terbaikmu tentang Allah. Karena itulah kehidupan yang akan kamu dapatkan. Penuhi hatimu dengan keyakinan akan kasih sayang, ampunan, dan kemuliaan-Nya, niscaya hidupmu akan dipenuhi keajaiban sesuai dengan sangkaan baikmu. Jadikan setiap detik kehidupan sebagai ladang menabur benih husnuzan kepada Sang Pencipta.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search