Hidup Melambat (Slow Living) Menurut Islam

Hidup Melambat (Slow Living) Menurut Islam
*) Oleh : Suharto Fauzan
Simpatisan Muhammadiyah di Surabaya
www.majelistabligh.id -

Seni hidup lambat atau Slow Living belakangan ini menjadi tren gaya hidup modern untuk mengatasi stres dan hiruk-pikuk dunia. Namun, tahukah kamu kalau konsep ini sebenarnya sudah ada dalam ajaran Islam sejak 14 abad yang lalu?

Bukan berarti bermalas-malasan, slow living versi Islam adalah tentang kesadaran penuh (mindfulness), keberkahan, dan memprioritaskan apa yang benar-benar berharga.

Berikut adalah panduan menjalani slow living sesuai Al-Qur’an dan Hadis:
1. Menghargai Waktu, Bukan Mengejar Waktu
Banyak orang merasa stres karena merasa “dikejar” waktu. Dalam Islam, waktu adalah amanah. Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu dalam Surah Al-Asr.
Slow living mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru. Rasulullah SAW bersabda: “Sifat tenang (tidak tergesa-gesa) datangnya dari Allah, sedangkan sifat tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Tirmidzi).

Intinya: Kerjakan sesuatu dengan kualitas, bukan sekadar kecepatan. Fokuslah pada proses, bukan hanya hasil akhir.

2. Praktik Qana’ah (Merasa Cukup)
Pemicu utama hidup terasa “cepat” dan melelahkan adalah ambisi duniawi yang tidak ada habisnya. Kita selalu ingin lebih: lebih kaya, lebih viral, lebih hebat.
Islam menawarkan konsep Qana’ah, yaitu merasa cukup dan rida dengan apa yang dimiliki.

Di dalam Al-Qur’an (At-Takathur: 1-2): Allah SWT mengingatkan bahwa bermegah-megahan seringkali melalaikan manusia.

Sementara itu, Rasulullah bersabda, “Kekayaan yang hakiki bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup).” (HR. Bukhari & Muslim).

3. Menemukan Kedamaian dalam Salat dan Dzikir
Slow living mengajak kita untuk mengambil jeda. Dalam Islam, kita memiliki “jeda wajib” sebanyak lima kali sehari melalui salat.

Salat adalah momen untuk berhenti sejenak dari urusan dunia, mengatur napas, dan mengoneksikan jiwa kembali kepada Pencipta. Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

4. Cara Memperlakukan Makanan
Gaya hidup ini juga mencakup bagaimana kita makan. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk makan perlahan, mengunyah dengan baik, dan berhenti sebelum kenyang. Ini adalah bentuk sikap sadar dengan sesuatu yang dikonsumsinya.

Islam melarang sikap Tabdzir (boros) dan berlebih-lebihan. Dengan hidup minimalis dan tidak konsumtif, pikiran kita menjadi lebih ringan dan tidak terbebani oleh tumpukan barang yang tidak perlu.

Slow living menurut Islam adalah hidup dengan Thuma’ninah (ketenangan). Kita tidak perlu berlari mengejar dunia seolah-olah akan hidup selamanya, namun kita bekerja sebaik mungkin sambil meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah.

Dengan melambatkan tempo, kita bisa lebih peka terhadap nikmat-nikmat kecil yang sering terlewatkan, misalnya: melihat dan merasakan kehangatan senyum ibu bapak, mendengarkan kicauan burung, atau menikmati kucuran air wudhu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search