Hidup Tentram dalam Pelukan Al Qur`an

Hidup Tentram dalam Pelukan Al Qur`an
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Anggota MT PCM Merden dan Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak manusia mencari kedamaian sejati. Mereka berkelana mencari formula kebahagiaan, padahal kunci ketenteraman itu sudah terukir jelas dalam warisan terbesar umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Kitab suci ini bukan sekadar bacaan ritual, melainkan peta jalan hidup yang menjanjikan ketenangan batin (sakinah) dan kebahagiaan hakiki bagi siapa pun yang mau menggali, memahami, dan mengamalkannya.

Ketenteraman atau sakinah adalah kondisi hati yang damai, stabil, dan jauh dari kegelisahan. Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa sumber ketenangan sejati adalah mengingat Allah (dzikrullah), dan membaca serta merenungkan Al-Qur’an adalah bentuk dzikrullah yang paling utama.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Ayat ini menegaskan sebuah hukum universal: ketenangan hati (ketenteraman) secara langsung berbanding lurus dengan kedekatan seseorang kepada Allah. Karena Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), maka membaca, mendengar, dan merenungkannya adalah jalan tercepat untuk mencapai dzikrullah dan meraih ketenangan yang dijanjikan.

Selain itu, Al-Qur’an juga digambarkan sebagai obat dan rahmat, yang memberikan jaminan kesembuhan spiritual dan mental. Allah SWT berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’ [17]: 82)

Pakar kesehatan mental modern yang mencoba meneliti dampak spiritual terhadap kesejahteraan psikologis menemukan korelasi positif yang signifikan. Dalam konteks Islam, para pakar (seperti yang disorot dalam jurnal psikologi) berpendapat bahwa Al-Qur’an memperkenalkan konsep “jiwa yang tenang” (An-nafsu Al-muthmainnah), yang merupakan kondisi ideal bagi kesehatan mental seorang Muslim.

Dengan berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur’an, seorang hamba akan dibimbing hidupnya, sehingga menjadi tenang dan merasa cukup.

Hidup tentram dengan Al-Qur’an tidak sekadar menghafal ayat-ayatnya, tetapi menjadikannya sebagai pedoman harian, baik dalam tataran membaca (tilawah), memahami (tadabbur), maupun mengamalkan ajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan yang luar biasa bagi mereka yang berinteraksi secara aktif dengan kitabullah.

Salah satu keutamaan yang paling mendasar adalah pahala yang dilipatgandakan untuk setiap huruf yang dibaca. Allah SWT berfirman:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

Pahala yang berlipat ganda ini menjadi motivasi spiritual yang menguatkan hati. Semakin banyak membaca, semakin banyak kebaikan yang terkumpul, yang pada gilirannya akan menarik rahmat Allah, dan rahmat adalah kunci ketenteraman.

Bagi mereka yang berkumpul untuk mempelajari dan membaca Al-Qur’an, Allah menjanjikan ketenangan (sakinah) secara langsung, yang turun dari langit. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW berikut:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Hadis ini secara gamblang mengaitkan aktivitas membaca dan mempelajari Al-Qur’an dengan turunnya sakinah (ketenangan). Ketenangan ini bukan sekadar perasaan subjektif, tetapi anugerah ilahi yang nyata, didukung oleh kehadiran malaikat dan pengakuan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketenangan dari Al-Qur’an bukan didapat secara instan hanya dengan membuka lembarannya, tetapi melalui proses yang konsisten diantaranya:

  1. Membaca dan Tadabbur

Membaca secara rutin, meskipun hanya sedikit, jauh lebih baik daripada membaca dalam jumlah besar tetapi jarang. Lebih dari itu, tadabbur (merenungkan makna) adalah kunci untuk menyentuh hati dan pikiran. Ketika ayat-ayat petunjuk, larangan, atau janji dibaca, kita harus bertanya: “Apa pesan Allah untukku hari ini?”

Ustaz Ahmad Nizamuddin Qisti, Lc. menyatakan bahwa Al-Qur’an mendamaikan hati dan pikiran, menyentuh jiwa kaum beriman dengan cahaya petunjuk Allah. Beliau menekankan pentingnya membaca secara tartil (perlahan dan indah) serta merenungkan maknanya agar pesan ilahi benar-benar masuk ke dalam jiwa.

  1. Mengamalkan sebagai Pedoman Hidup

Ketenteraman hakiki lahir dari kepastian hidup yang terarah. Al-Qur’an menyediakan petunjuk yang lengkap mengenai akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak. Ketika seseorang hidup sesuai tuntunan Al-Qur’an—menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia—maka ia telah menciptakan lingkungan batin yang stabil. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

Ayat ini menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk (huda) yang akan membawa seseorang kepada jalan lurus (Shiraˉṭal−Mustaqıˉm), sehingga ia tidak mudah tersesat dan jauh dari kegelisahan.

  1. Konsekuensi Berpaling dari al Qur`an

Sebaliknya, Allah SWT memberikan peringatan tegas bagi mereka yang berpaling dari petunjuk-Nya, menunjukkan bahwa kesengsaraan hidup di dunia adalah konsekuensi logis dari menjauhi sumber ketenangan. Allah SWT befirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha [20]: 124)

Penghidupan yang sempit (ma’īsyatan ḍankā) di dunia adalah ketidaktenangan, kegelisahan abadi, dan ketidakmampuan merasakan nikmat spiritual, meskipun berlimpah materi.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan dan obat segala penyakit kehidupan sosial dan spiritual manusia. Kunci untuk mencapai hidup tentram bukanlah mencari cara baru yang rumit, melainkan kembali kepada panduan Ilahi yang sudah sempurna. Dengan membaca, mentadabburi, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dalam setiap langkah, niscaya ketenangan sejati (sakinah) akan hadir, menjadikan kita termasuk golongan pemilik “jiwa yang tenang” (An-Nafsu Al-Muthmainnah). (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search