Hidup yang Sejati: Antara Dunia Fana dan Akhirat Abadi

Hidup yang Sejati: Antara Dunia Fana dan Akhirat Abadi
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

The world is just a stopover, while the eternal one is living after death”

“(Dunia hanyalah tempat persinggahan, sedangkan yang abadi ialah hidup setelah kematian)”

Banyak dari kita menganggap kematian sebagai akhir, padahal sejatinya ia adalah gerbang menuju kehidupan yang hakiki. Tubuh memang kembali ke tanah, namun ruh kita terus hidup, merasakan, dan menyaksikan. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara, sebuah panggung ujian yang penuh fatamorgana. Kesenangan, kepahitan, dan segala urusan duniawi yang kita anggap penting, semua itu tak akan dibawa ke alam abadi.

Kehidupan yang sesungguhnya adalah apa yang akan kita jalani setelah meninggalkan dunia. Segala amal baik dan buruk yang kita tanam di dunia inilah yang akan menjadi penentu nasib kita. Maka, janganlah sibuk menumpuk harta, tapi siapkanlah bekal iman dan takwa. Kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan motivasi untuk mempersiapkan diri untuk menghadap Illahi.Sebagaimana firman Allah

SWT:

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

Artinya:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. ” (Qs. Al-‘Ankabūt: 64)

Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan bersifat melalaikan, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki dan abadi, yang hanya dapat dipahami dengan pengetahuan dan pemahaman yang benar.

Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia. Dan Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم. ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,“Aku pernah bersama Rasulullah Saw, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah No. 4259)

Hadits ini menjelaskan bahwa kecerdasan sejati menurut Rasulullah SAW adalah bagi orang yang senantiasa memikirkan kematian dan berusaha mempersiapkan bekal amal kebaikan untuk kehidupan akhirat.

Jadi, marilah kita jadikan sisa hidup ini sebagai ladang amal, agar kelak kita menuai kebahagiaan abadi.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search