Hizbul Wathan Harus Menjadi Kepanduan Berkemajuan

Pembukaan Tanwir ke-1 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan
www.majelistabligh.id -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) untuk terus bertransformasi menjadi organisasi yang terbuka, inklusif, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan amanat pada Pembukaan Tanwir ke-1 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, Kamis (8/10/2026).

Tanwir bertajuk “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan” ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua di bawah Muktamar yang digelar Kwartir Pusat (Kwarpus) HW guna mengevaluasi dan merumuskan kebijakan strategis organisasi.

Dalam paparan utamanya, Mu’ti menyoroti fenomena krisis kesehatan mental dan memudarnya rasa nasionalisme yang membayangi Generasi Z serta Generasi Alpha. Mengutip buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt, ia menilai banyak anak muda saat ini tumbuh dalam kondisi rentan bak “generasi stroberi“.

“Tampilannya mungkin kelihatan keren dan gagah. Namun saat diterpa tantangan, mereka mudah loyo dan melempem,” ujar Mu’ti.

Ia menambahkan, derasnya keterbukaan informasi kerap membuat generasi muda lebih terinspirasi oleh tren global ketimbang nilai-nilai kebangsaan. Dampaknya, ikatan nasionalisme berisiko meluruh.

Menanggapi persoalan tersebut, Mu’ti mendorong kepanduan HW untuk menghidupkan kembali spirit fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) secara nyata—bukan sekadar jargon pidato semata.

Ia juga berpesan agar Hizbul Wathan tidak terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu atau didominasi oleh generasi tua. Sebaliknya, HW harus mampu merangkul anak muda dan menghadirkan solusi konkret atas masalah yang dialami generasi mereka.

“HW harus lebih dekat dengan masyarakat dan menjadi kekuatan muda yang memberikan solusi nyata bagi persoalan generasi muda itu sendiri,” tegasnya.

Mengakhiri amanatnya, Mu’ti menekankan pentingnya mengamalkan Sepuluh Undang-Undang Pandu HW dalam kehidupan sehari-hari, khususnya poin kesepuluh: Suci dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan.

“Di tengah maraknya fitnah dan hoaks saat ini, pandu HW harus hadir dengan pikiran yang bersih serta tutur kata yang santun (qaulan kariman, qaulan layinan),” pungkas Mu’ti. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search