Hujan: Tetesan Air Pembawa Keberkahan dan Rahmat Ilahi

Hujan: Tetesan Air Pembawa Keberkahan dan Rahmat Ilahi
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Hujan. Bagi sebagian orang, ia mungkin sekadar fenomena alam yang membawa kesejukan atau justru penghalang aktivitas. Akhir-akhir ini hujan melanda berbagai tempat di Indonesia. Namun, bagi seorang Muslim, hujan adalah manifestasi agung dari kasih sayang dan kuasa Allah SWT. Setiap tetesan air yang jatuh dari langit bukanlah kebetulan, melainkan anugerah yang sarat makna, membawa berkah, rahmat, dan kehidupan bagi seluruh alam semesta.

Dalam perspektif Islam, hujan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia disebut berulang kali dalam Al-Qur’an dan menjadi bagian penting dari sunnah Rasulullah SAW.

Hujan, Air Keberkahan dan Sumber Kehidupan

Al-Qur’an secara eksplisit menyebut hujan dengan sifat “air yang diberkahi” (مَاءً مُّبَارَكًاmā’am mubārakā). Ini menunjukkan bahwa esensi dari hujan adalah keberkahan, yaitu bertambahnya kebaikan dan manfaat.

Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً مُّبَٰرَكًا فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ جَنَّٰتٍ وَحَبَّ ٱلْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf [50]: 9)

Ayat ini menegaskan fungsi utama hujan sebagai sumber kehidupan yang menumbuhkan tanaman, yang merupakan sumber makanan bagi manusia dan hewan. Tanpa air hujan, bumi akan mati dan tandus, dan kehidupan pun terhenti. Hujan adalah perwujudan dari kuasa Allah dalam menghidupkan kembali apa yang telah mati.

Selain itu, Allah SWT juga menegaskan bahwa air adalah asal mula segala kehidupan:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka t1idak juga beriman?” (QS. Al-Anbiya [21]: 30)

Terkadang, hujan datang setelah masa kekeringan yang panjang, membawa kelegaan dan harapan. Dalam konteks ini, Allah SWT menyebut hujan sebagai penyebar rahmat setelah manusia hampir berputus asa:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura [42]: 28)

Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena Dia mampu mengubah keadaan dari kesulitan menjadi kemudahan.

Keberkahan hujan juga mencakup aspek spiritual, yaitu sebagai sarana pensucian. Dalam Perang Badar, Allah menurunkan hujan untuk membersihkan kaum Muslimin dari hadas (kotoran) dan menguatkan hati mereka:

…وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ…

“…dan menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu…” (QS. Al-Anfal [8]: 11)

Mengambil Berkah dan Waktu Mustajab di Tengah Hujan

Rasulullah SAW memberikan teladan tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi hujan, yaitu dengan penuh syukur dan mengambil berkah darinya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata:

أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَطَرٌ ، فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ ، فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا ؟ قَالَ : ‏”‏ لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى ‏”‏

“Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah SAW. Lalu beliau menyingkapkan pakaiannya hingga hujan mengguyur tubuhnya. Kami pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Karena hujan ini baru saja diciptakan oleh Rabb-nya (Allah) Ta’ala’.” (HR. Muslim No. 898)

Hadis ini menunjukkan anjuran untuk mengambil keberkahan dari air hujan, karena ia adalah rahmat yang baru diturunkan langsung dari sisi Allah SWT. Sikap Rasulullah SAW ini merupakan cerminan dari kecintaan dan pengagungan beliau terhadap setiap karunia Ilahi.

Salah satu keberkahan terbesar saat turun hujan adalah ditetapkannya waktu tersebut sebagai momen mustajab (dikabulkannya doa). Rasulullah SAW bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ

“Dua doa yang tidak akan ditolak, yaitu doa pada saat adzan berkumandang dan doa di bawah guyuran hujan.” (HR. Al-Hakim, disahihkan oleh Al-Albani)

Ini adalah peluang emas bagi setiap Muslim untuk memanjatkan hajat, taubat, dan permohonan ampunan kepada Allah SWT. Doa yang dianjurkan saat turun hujan adalah:

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

(“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”)

Walaupun hujan adalah rahmat, seorang Muslim juga diajarkan untuk bersyukur dan berhati-hati. Hujan yang berlebihan bisa menjadi musibah jika manusia lalai dalam menjaga lingkungan. Selain itu, Rasulullah SAW juga menunjukkan kekhawatiran saat melihat mendung, takut jika itu adalah azab, sebagaimana pernah menimpa kaum-kaum terdahulu.

Dari Aisyah RA, ia berkata:

“Apabila Rasulullah SAW melihat awan mendung, wajah beliau menunjukkan kekhawatiran. Jika turun hujan, beliau merasa lega dan hilang kekhawatirannya. Beliau bersabda, ‘Aku khawatir jika itu adalah azab yang diturunkan kepada umatku.”” (HR. Muslim)

Kekhawatiran ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap tawadhu (rendah hati) dan memohon perlindungan dari murka Allah, bahkan di tengah-tengah datangnya nikmat.

Hujan, dengan setiap tetesannya, adalah simbol kekuasaan, kasih sayang, dan kebaikan Allah SWT. Ia adalah air yang diberkahi, sumber kehidupan, sarana pensucian, dan waktu dikabulkannya doa. Mari kita sambut setiap hujan dengan rasa syukur, memperbanyak doa, dan merenungkan keagungan Sang Pencipta yang telah mengatur segala sesuatu di alam semesta ini dengan penuh hikmah. Hujan mengajarkan kita tentang siklus kehidupan, harapan, dan janji Allah akan rahmat-Nya yang tak terbatas. (*)

Tinggalkan Balasan

Search