Siapa Ibnu Muljam?
Banyak yang menyangka bahwa pembunuh Ali bin Abi Thalib RA adalah seorang fasik yang jauh dari agama. Namun, kenyataan sejarah justru lebih mengejutkan dan mengerikan. Ia adalah seorang ahli ibadah, zuhud, dan pembaca Al-Qur’an yang tekun.
Dahulu, Umar bin Khattab RA pernah mengirimnya ke Mesir atas permintaan gubernur ‘Amr bin al-‘Ash RA yang membutuhkan pengajar Al-Qur’an. Umar bahkan berkata:
“إني قد آثرتك بعبد الرحمن بن ملجم على نفسي”
“Aku lebih mendahulukanmu dengan mengirim Abdurrahman bin Muljam padahal aku membutuhkannya (di Madinah).”
Bayangkan, seorang Khalifah sekelas Umar bin Khattab memuji kualitas bacaan dan kedalaman ilmu Ibnu Muljam. Namun, ilmu yang tidak diiringi dengan hidayah hati justru menjadi bumerang.
Ibnu Muljam yang awalnya adalah pendukung setia Ali bin Abi Thalib, perlahan tergelincir ke dalam pemahaman kaku Khawarij. Ia menganggap Ali—sang pintu ilmu dan menantu Rasulullah SAW—telah keluar dari syariat karena melakukan diplomasi manusia dalam perang.
Lalu, pada subuh yang kelam di Kufah, ia melancarkan aksinya. Sambil mengayunkan pedang beracunnya ke arah dahi Ali bin Abi Thalib, ia dengan penuh keyakinan membaca ayat:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)
Betapa tragisnya, sebuah ayat yang mulia digunakan sebagai pembenaran untuk menumpahkan darah sosok yang paling dicintai Rasulullah SAW. Dengan membunuh Ali RA, ia merasa sedang beribadah kepada Allah, padahal ia sedang melakukan dosa paling besar di masanya.
Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Rasulullah SAW telah memperingatkan Ali akan datangnya sosok ini. Beliau bersabda kepada Ali RA:
أَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَضْرِبُكَ عَلَى هَذِهِ – وَأَشَارَ إِلَى يافوخه – حَتَّى تَبْتَلَّ مِنْهَا هَذِهِ – وَأَشَارَ إِلَى لِحْيَتِهِ
“Orang yang paling celaka dari generasi kemudian adalah dia yang memukulmu di bagian ini (menunjuk ubun-ubun), hingga darahnya membasahi ini (menunjuk janggut Ali).” (HR. Ahmad & Al-Hakim)
Bahkan saat hendak dieksekusi (qishas), kesombongan spiritualnya tetap tampak. Ia meminta agar tubuhnya dipotong perlahan agar ia bisa merasakan “nikmatnya” disiksa di jalan Allah. Ia benar-benar yakin dirinya berada di atas kebenaran.
Inilah yang dikhawatirkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman RA dalam atsar yang terkenal:
إِنَّمَا الْفِتْنَةُ أَنْ تَرَى الْحَلَالَ حَرَامًا وَالْحَرَامَ حَلَالًا
“Sesungguhnya fitnah (ujian agama) itu adalah ketika engkau menganggap yang halal sebagai haram, dan yang haram engkau anggap halal.” (Atsar Riwayat Al-Hakim)
Kisah Ibnu Muljam mengajarkan kita bahwa dahi yang hitam karena sujud dan lisan yang basah dengan Al-Qur’an tidaklah cukup jika hati dipenuhi dengan kesombongan dan kebencian kepada sesama mukmin.
Saat ini pengikut (kelompok) yang sekarakter dengan Ibnu Muljam telah begitu banyak hadir di tengah kehidupan warga Muhammadiyah. Mereka hadir sebagai tamu di rumah rumah Muhammadiyah atau di AUM Muhammadiyah dengan sedikit kelembutan di awal. Namun banyak terselubung motivasi untuk bisa mengambil hati warga Muhammadiyah untuk kiranya menjadi benalu yang siap mematikan pohon induknya.
Mereka hadir dengan memberi label bahwa Muhammadiyah itu masih belum murni dalam menegakkan sunnah, dan bahkan mereka mengibaratkan bahwa Muhammadiyah itu laksana nasi campur yang tidak putih dan murni, masih banyak kekeliruan dan kesesatan dalam menerapkan ajaran Islam maupun sunnah Rasululloh SAW.
Saya hanya meminjam syiir weton-nya Gus dur yang sering diperdengarkan itu “Akeh sing apal quran haditse, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewe gak digatekke“.
Banyak yang pinter dan hafal Qur’an serta hadits, tapi senang menganggap orang kafir dan sesat tapi kekafiranya sendiri tidak pernah dipikirkan. (*)
