Ungkapan tersohor karya penyair Mesir Hafiz Ibrahim (1872–1932), “Al-ummu madrasatun ūlā, idzā a‘dadtahā, a‘daddta sya‘ban ṭayyiba al-a‘rāq”, menegaskan bahwa ibu adalah sekolah pertama. Menyiapkan sosok ibu dengan baik sama artinya dengan membangun fondasi generasi bangsa yang mulia.
Adagium ini tak hanya berlaku dalam aspek spiritual dan karakter, tetapi juga menjadi pijakan penting dalam memperkuat literasi ekonomi serta keuangan syariah di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, menegaskan bahwa ibu memegang posisi yang sangat strategis. Sosok ibu tak hanya menanamkan nilai-nilai keuangan syariah sejak dini kepada anak, tetapi juga menjadi penggerak utama perekonomian keluarga.
Pernyataan tersebut disampaikan Buya Amirsyah dalam Talkshow “Membangun Literasi dan Inklusi Ekonomi dan Keuangan Syariah di Tengah Arus Global: Lewat Gagasan 99 Ekonom Syariah Indonesia”, yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).
“Ibu adalah madrasah pertama untuk mendidik anak-anak dan keluarga menjadi generasi yang saleh. Itu sudah menjadi sunatullah,” ujar Buya Amirsyah.
Menurutnya, perempuan berhadapan langsung dengan tata kelola keuangan rumah tangga setiap hari. Ketika seorang ibu memahami prinsip-prinsip keuangan syariah, nilai-nilai tersebut akan tertanam secara alami dalam interaksi harian bersama anak.
Dengan demikian, pemahaman ekonomi syariah tak sekadar berhenti sebagai teori atau pengetahuan semata, melainkan menjelma menjadi pola pikir dan kebiasaan (habit) anak sejak dini.
“Nasihat dan tutur kata ibu yang penuh kesan akan mengendap dan menjadi kebiasaan hidup bagi anak-anaknya,” jelasnya.
Selain membentuk karakter finansial keluarga, Buya Amirsyah juga menyoroti potensi besar perempuan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Pembekalan literasi dan keahlian ekonomi syariah bagi perempuan dinilai krusial agar mereka semakin berdaya dalam mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Oleh karena itu, lewat tiga poin penting ini, para ibu harus terus kita bekali pengetahuan dan literasi yang memadai,” pungkasnya. (*/tim)
