Idulfitri selalu menjadi penanda penting dalam kehidupan beragama, sosial, dan ekonomi masyarakat Indonesia. Ia bukan hanya perayaan spiritual setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum meningkatnya aktivitas ekonomi. Konsumsi rumah tangga naik, mobilitas masyarakat bertambah, dan peredaran uang bergerak lebih cepat. Sulit membayangkan bagaimana kondisi ekonomi sepanjang tahun tanpa kehadiran Idulfitri. Tanpa momentum ini, pelemahan ekonomi bisa terasa jauh lebih dalam.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan ekonomi. Bersamaan dengan itu, tumbuh berbagai aktivitas ekonomi yang tidak sepenuhnya bertumpu pada sektor riil, seperti perdagangan aset kripto, pinjaman online, dan judi online.
Fenomena ini berkembang pesat. Ia menawarkan kemudahan dan kecepatan, sekaligus menyimpan risiko yang tidak kecil, terutama bagi masyarakat yang belum memiliki perlindungan dan literasi keuangan memadai.
Idulfitri, dengan semangat kembali ke fitrah, memberi ruang untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih. Peningkatan transaksi menjelang dan saat hari raya kerap dibaca sebagai sinyal positif bagi perekonomian. Namun perputaran uang tidak selalu sejalan dengan penguatan ekonomi yang berkelanjutan. Ada perbedaan mendasar antara ekonomi yang sekadar bergerak dan ekonomi yang benar-benar tumbuh. Yang pertama bisa bersifat sementara dan rapuh. Yang kedua memerlukan basis produksi, kerja, dan distribusi nilai yang adil.
Sektor ekonomi riil pada pertanian, industri, perdagangan rakyat, UMKM, dan jasa produktif masih menjadi penopang utama penghidupan jutaan orang. Di sektor inilah lapangan kerja tercipta dan kesejahteraan jangka panjang dibangun. Momentum Idulfitri selama ini membantu menjaga denyut sektor tersebut, mulai dari meningkatnya permintaan produk lokal hingga bergairahnya usaha kecil di berbagai daerah.
Namun perhatian publik kerap teralihkan oleh aktivitas ekonomi digital yang bergerak cepat, tetapi tidak selalu berkaitan langsung dengan peningkatan produktivitas. Aset kripto dan bitcoin, misalnya, sering dipahami sebagai bagian dari inovasi teknologi keuangan. Dalam praktiknya, aktivitas ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai sarana spekulasi harga. Fluktuasi yang tajam dapat memberi keuntungan bagi sebagian pihak, tetapi juga membawa risiko besar bagi banyak individu, terutama mereka yang masuk tanpa pemahaman memadai.
Pinjaman online menghadirkan persoalan yang berbeda. Di satu sisi, ia membuka akses pembiayaan yang sebelumnya sulit dijangkau. Di sisi lain, bunga tinggi dan penggunaan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif kerap menempatkan keluarga pada tekanan keuangan baru. Tidak sedikit masyarakat yang menghadapi Idul Fitri dengan beban utang, alih-alih ketenangan dan rasa cukup.
Sementara itu, judi online memperlihatkan dampak yang lebih luas. Selain tidak menghasilkan nilai tambah ekonomi, praktik ini sering memicu persoalan sosial, mulai dari ketidakstabilan ekonomi keluarga hingga rusaknya relasi sosial. Fenomena ini menjadi semakin kontras ketika ditempatkan dalam konteks Idul Fitri yang sarat dengan nilai pengendalian diri, tanggung jawab, dan solidaritas.
Puasa mengajarkan keseimbangan serta kesadaran atas batas. Nilai-nilai inilah yang seharusnya ikut membimbing cara masyarakat dan negara memandang aktivitas ekonomi. Tanpa kesadaran tersebut, kemudahan digital justru berpotensi mendorong perilaku ekonomi yang kurang sehat dan menjauh dari tujuan kesejahteraan bersama.
Karena itu, Idulfitri layak dimaknai sebagai momen evaluasi kolektif. Bukan semata tentang peningkatan konsumsi jangka pendek, melainkan tentang arah ekonomi yang sedang dibangun. Negara memiliki peran penting untuk memastikan bahwa perkembangan ekonomi digital berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat dan penguatan sektor riil. Penataan regulasi, peningkatan literasi keuangan, serta dukungan yang konsisten bagi UMKM, koperasi, dan ekonomi produktif menjadi langkah yang relevan dan mendesak.
Pada saat yang sama, masyarakat juga memegang peran. Pilihan ekonomi sehari-hari tentang cara berutang, berinvestasi, dan membelanjakan pendapatan ikut menentukan wajah ekonomi bersama. Mendukung produk lokal dan usaha kecil mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya besar bagi ketahanan ekonomi.
Pada akhirnya, kemajuan ekonomi tidak semata diukur dari cepatnya perputaran uang, melainkan dari kualitas pertumbuhan dan pemerataan manfaatnya. Idulfitri bukan hanya hari raya keagamaan, tetapi juga salah satu penyangga penting dinamika ekonomi nasional. Di tengah euforia berbagai aktivitas ekonomi digital, momentum ini memberi kesempatan untuk kembali meneguhkan pilihan pada ekonomi yang berpijak pada kerja nyata, nilai nyata, dan kesejahteraan bersama. Wa Allahu A’lam.
