Idulfitri: Kembali Suci, Juga Kembali (Makin) Berani!

Idul Fitri: Kembali Suci, Juga Kembali (Makin) Berani!
*) Oleh : Edy Mulyadi
Wartawan Senior
www.majelistabligh.id -

Ramadan telah berlalu. Bulan yang membakar dosa, menundukkan nafsu, dan menyucikan jiwa itu kini menjauh. Seperti tamu agung yang pamit tanpa janji kembali. Ia pergi. Tapi seharusnya meninggalkan jejak—pada hati yang lebih jernih. Pada jiwa yang lebih hidup.

Lalu kita tiba di Idulfitri. Hari kemenangan. Namun kemenangan macam apa yang kita rayakan? Apakah sekadar kemenangan perut yang kembali bebas dari lapar? Ataukah kemenangan ruh yang berhasil menaklukkan dirinya sendiri, yang seringkali lebih liar dari musuh mana pun?

Allah SWT telah menetapkan tujuan puasa dengan sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Takwa. Itulah puncak. Itulah arah. Dan takwa tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari perjuangan. Hidup dalam kejujuran. Tegak dalam keberanian. Takwa bukan hanya soal menangis dalam doa di sepertiga malam. Tapi juga keberanian berdiri di siang hari, di tengah riuhnya dunia, untuk mengatakan: ini benar, dan itu salah.

Tentu saja, dilakukan dengan timbangan wahyu dan akal sehat. Takwa bukan sekadar ritual. Tapi perubahan karakter.

Di sinilah Idulfitri menemukan maknanya yang sejati. Ia bukan sekadar kembali suci. Tapi kembali berpihak. Berpihak kepada kebenaran. Kepada keadilan. Berpihak kepada apa yang diridhai Allah.

Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar bukan pilihan. Ia adalah konsekuensi iman. Rasulullah SAW mengingatkan dengan tegas:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Hadis ini bukan sekadar nasihat. Ia adalah garis batas. Antara iman yang hidup dan iman yang nyaris padam.

Hari-hari ini, kita menyaksikan negeri tercinta dengan dada sesak. Harga kebutuhan merangkak naik, sementara daya beli kian tercekik. Sumber daya alam yang melimpah justru lebih banyak dinikmati segelintir tangan. Kebijakan terasa jauh dari rasa keadilan.

Di ruang-ruang kekuasaan, keputusan sering lahir bukan dari jeritan rakyat, tapi dari kalkulasi segelintir elite. Sementara di bawah, rakyat diminta terus bersabar. Seolah kesabaran adalah satu-satunya solusi yang tersisa.

Menyedihkan. Negeri kaya. Tapi rakyatnya gelisah dan susah. Lebih menyedihkan lagi, sebagian memilih diam. Diam karena takut. Diam karena lelah. Atau diam karena sudah terlalu lama berdamai dengan keadaan. Dengan ketidakadilan. Pasrah!

Padahal, diam terhadap kemungkaran bukanlah netral. Ia adalah keberpihakan yang terselubung.

Ramadan adalah kendali

Ramadan seharusnya mengajarkan kita sebaliknya. Ia melatih kita sabar. Bukan untuk pasrah, tapi untuk teguh.
Ramadhan melatih kita jujur. Bukan hanya saat sendiri, tapi juga saat diuji di ruang publik. Ia melatih kita menahan diri—agar kelak mampu mengendalikan arah hidup. Bukan dikendalikan keadaan.

Maka Idulfitri adalah cermin. Ia bertanya tanpa suara: apa yang berubah dari dirimu? Apakah kita kembali menjadi manusia lama—yang tahu kebenaran tapi enggan menyuarakan? Atau kita lahir sebagai pribadi baru? Pribadi yang lebih jernih melihat, dan lebih berani bersikap?

Fitrah itu tidak abu-abu. Ia terang. Tegas. Fitrah tidak berdiri di dua kaki. Fitrah akan selalu condong kepada yang haq. Dan yang haq tidak pernah nyaman berdampingan dengan kebatilan. Maka menjadi Muslim sejati berarti siap menanggung konsekuensi: tidak selalu disukai, tidak selalu aman, tapi selalu berada di jalan yang benar.

Idulfitri bukan garis akhir. Ia adalah titik awal. Awal dari perjalanan yang lebih berat: menjaga kesucian di tengah godaan. Menjaga kejujuran di tengah tekanan. Juga menjaga keberanian di tengah ancaman.

Kita tidak butuh hanya umat yang rajin beribadah. Kita butuh umat yang utuh. Yang rukuknya khusyuk, tapi juga tegak saat melihat kezaliman. Yang lisannya basah dengan dzikir, tapi juga lantang menyuarakan kebenaran. Yang hatinya lembut, air mata bercucur deras saat bermunajat di sepertiga malam, tapi tidak lemah.

Selamat Idulfitri. Mari kembali suci. Bukan hanya dalam hati, tapi juga dalam sikap. Mari kembali bersih. Tak hanya dari dosa, tapi juga dari ketakutan. Dan lebih dari itu, mari kembali (makin) berani!

Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbal ya karim. Mohon maaf lahir dan batin. []

Jakarta, 20 Maret 2026

 

 

Tinggalkan Balasan

Search