Pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah oleh Muhammadiyah di Stadion Panunjung Tarung, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (20/3/2026), tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga menghadirkan pesan moral yang kuat bagi umat Islam di Indonesia.
Sejak pagi hari, ribuan jamaah dari berbagai kalangan memadati stadion untuk mengikuti Shalat Ied yang dimulai pukul 07.00 WIB. Jamaah terdiri dari jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), organisasi otonom, amal usaha Muhammadiyah, serta masyarakat umum.
Pelaksanaan ini mengacu pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026.
Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustadz Arif Maulana, Lc menyampaikan khutbah bertema “Makna dalam Ilmu yang Bermanfaat,” yang sarat dengan pesan reflektif dan relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Dalam khutbahnya, ia mengangkat kisah klasik ulama antara Syaqiq Al-Balkhi dan muridnya Hatim Al-Asham sebagai gambaran hakikat ilmu yang sesungguhnya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa inti dari ilmu bukan pada banyaknya pengetahuan, melainkan pada kedalaman pemahaman dan pengamalannya.
“Amal kebaikan adalah satu-satunya yang setia menemani manusia hingga ke alam kubur bahkan sampai ke surga,” ujar khatib di hadapan jamaah.
Ia menegaskan bahwa seluruh yang dimiliki manusia di dunia bersifat sementara dan akan lenyap. Karena itu, umat Islam diajak untuk menginvestasikan kehidupan melalui amal kebajikan.
“Apa yang ada di sisi manusia akan habis. Maka infakkan sebagian harta di jalan Allah agar menjadi kekal di sisi-Nya,” lanjutnya.
Lebih jauh, khutbah tersebut juga menyoroti berbagai persoalan moral yang masih terjadi di tengah masyarakat, seperti iri dengki, saling menjatuhkan, hingga permusuhan.
Menurutnya, konflik antar manusia seringkali berakar dari ketidakpuasan terhadap rezeki. Padahal, rezeki telah ditetapkan oleh Allah bagi setiap makhluk.
“Manusia saling mencela dan bermusuhan karena iri terhadap rezeki, padahal rezeki itu datang dari Allah. Tidak ada alasan untuk saling menjatuhkan,” tegasnya.
Khatib juga mengingatkan bahwa musuh utama manusia bukanlah sesama, melainkan setan yang senantiasa menggoda untuk menjerumuskan manusia dalam permusuhan dan keburukan.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tekanan, pesan tentang tawakal menjadi salah satu penekanan utama. Ia menegaskan bahwa Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.
“Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya,” katanya.
Pesan ini memberikan optimisme dan ketenangan batin bagi jamaah, sekaligus menjadi pengingat untuk tidak terjebak dalam kecemasan berlebihan terhadap kehidupan dunia.
Selain itu, khatib juga menekankan pentingnya menundukkan hawa nafsu sebagai bentuk jihad terbesar dalam kehidupan manusia. Ia mengajak umat untuk menjadikan ketakwaan sebagai tolok ukur kemuliaan, bukan harta atau kedudukan.
Seluruh rangkaian Salat Idulfitri berlangsung dengan tertib dan khidmat. Jamaah mengikuti ibadah dengan penuh kekhusyukan, mencerminkan semangat kebersamaan dan persatuan umat Islam.
Momentum Idulfitri ini menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya setelah menjalankan ibadah Ramadan, tetapi juga ketika mampu menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Kuala Kapuas, pesan Idulfitri itu menggema lebih luas: bahwa umat Islam membutuhkan ilmu yang membimbing, amal yang menguatkan, serta hati yang bersih dari iri dan permusuhan untuk membangun kehidupan yang damai dan bermartabat.(ay.1)
