Ikhlas Itu Tak Terucap, Tapi Menggetarkan

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

Saya tersentak ketika menyimak obrolan santai dalam sebuah podcast antara Ustaz Felix Siauw dan Raim Laode, penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia Timur. Podcast itu membahas banyak hal: tentang karya, spiritualitas, dan inspirasi.

Tapi ada satu bagian yang begitu menempel dalam benak saya: pembahasan tentang lagu Komang. Lagu itu menjadi sangat populer, didengar jutaan orang, dan disukai banyak kalangan. Liriknya puitis, penuh cinta dan kerinduan.

Dari kejauhan, tergambar cerita tentang kita / Terpisah jarak dan waktu
Ingin kuungkapkan rindu lewat kata indah / Tak cukup untuk dirimu

Sebab kau terlalu indah dari sekadar kata / Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu
Dan apabila tak bersamamu / Kupastikan kujalani dunia tak seindah kemarin

Sederhana, tertawamu sudah cukup / Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu

Namun, satu hal menarik yang disinggung Ustaz Felix: tidak ada satu pun kata Komang dalam lirik lagunya. Tidak ada. Padahal lagu itu jelas-jelas diberi judul Komang.

Raim pun menjawab dengan tenang bahwa lagu itu terinspirasi dari Surat Al-Ikhlas, surat ke-112 dalam Al-Qur’an. Sebuah surat pendek yang hampir pasti dihafal oleh setiap Muslim. Surat yang sangat kuat maknanya.

Tapi menariknya, surat itu pun tidak menyebut kata ikhlas sedikit pun. Tidak ada. Namun, seluruh isi surat itu justru menggambarkan makna keikhlasan yang paling murni.

Momen itu membuat saya diam cukup lama. Dalam hati saya bergumam: betapa luar biasanya konsep ikhlas. Justru karena tidak disebutkan, ia menjadi nyata. Karena tidak diklaim, ia menjadi dalam.

Surat Al-Ikhlas (QS. 112:1–4) berisi deklarasi tauhid. Allah itu Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Itu adalah bentuk penghambaan dan pengakuan yang paling ikhlas. Seluruhnya ditujukan hanya kepada Allah. Tidak ada sisipan ingin dipuji, tidak ada niat untuk menarik simpati.

Itulah keikhlasan yang murni: diam, tapi hidup. Tak disebut, tapi terasa. Tak terlihat, tapi ada.

***

Kita hidup di zaman yang banyak bicara soal keikhlasan. Dalam banyak kesempatan, saya mendengar orang menyatakan, “Saya ikhlas, kok.” “Saya sudah bantu dengan ikhlas.” Bahkan kadang, sebelum orang lain bertanya, ia sudah lebih dulu menjelaskan bahwa semua tindakannya dilakukan dengan ikhlas.

Tentu saja, saya tidak punya kapasitas untuk menilai ketulusan hati seseorang. Hanya Allah yang tahu isi hati kita. Tapi saya mulai belajar untuk curiga terhadap diri sendiri, bukan terhadap orang lain.

Sebab saya pun, jujur saja, kadang masih punya hasrat untuk dinilai. Ingin dianggap berjasa. Ingin dikenang. Ingin dipuji atas sesuatu yang telah dilakukan.

Keikhlasan ternyata bukanlah kondisi yang otomatis hadir dalam diri seseorang. Ia bukan tombol yang bisa ditekan. Ia adalah proses panjang. Sebuah latihan. Perjuangan batin yang terus-menerus antara niat dan kenyataan.

Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa apa yang tampak di luar sering kali bukan tolok ukur kebaikan. Yang terpenting justru adalah niat. Apa yang tersembunyi di dalam hati. Sebab hati bisa menyembunyikan banyak hal—baik kemurnian maupun kepalsuan.

Rasulullah juga mengingatkan kita dalam sabda lain:

“Barang siapa melakukan suatu amal karena ingin diperlihatkan kepada manusia (riya’), maka Allah akan memperlihatkannya di hadapan makhluk di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Riya adalah lawan dari ikhlas. Dan bahayanya, ia sangat halus. Ia bisa menyelinap dalam ibadah, dalam sedekah, dalam amal sosial, dalam tulisan, bahkan dalam kata-kata yang tampaknya baik.

Kita bisa saja berkata “demi Allah” sambil dalam hati menginginkan popularitas. Kita bisa saja menangis dalam doa, tapi hati berharap dipandang khusyuk oleh orang lain.

Maka, saya mulai belajar satu hal penting: jangan terlalu mudah mengklaim keikhlasan. Biarkan orang lain yang menilai. Atau lebih baik lagi, biarkan hanya Allah yang tahu.

***

Keikhlasan tidak butuh penjelasan. Ia seperti akar pohon: bekerja di bawah permukaan, tanpa terlihat, tapi keberadaannya sangat menentukan kehidupan pohon di atasnya.

Ia seperti udara: tidak kasat mata, tapi tanpanya kita tidak bisa hidup.

Atau seperti tanah: diam, tak bersuara, tapi menjadi pijakan bagi semua yang berjalan di atasnya.

Itulah sebabnya, saya belajar untuk lebih berhati-hati. Bukan dalam berbicara kepada orang lain, tapi dalam berbicara kepada diri sendiri. Jangan sampai amal yang kita banggakan di dunia ternyata kosong nilainya di akhirat.

Jangan sampai kita terseret untuk menampakkan apa yang seharusnya disembunyikan. Jangan sampai keikhlasan berubah menjadi panggung, bukan persembahan.

Sebab amal yang tersembunyi lebih dekat dengan ketulusan. Sedekah yang tidak diketahui orang lain lebih ringan dan lebih tulus. Doa yang tak terdengar justru lebih jujur. Dan kebaikan yang tidak diumumkan jauh lebih selamat.

Saya tidak sedang menasihati siapa pun. Saya sedang menasihati diri saya sendiri. Agar terus belajar menyembunyikan amal.

Agar terus belajar memperbaiki niat. Agar terus belajar untuk tidak menyebut-nyebut apa yang sudah dilakukan. Bahkan kepada diri sendiri.

Ikhlas itu bukan sekadar tidak berharap balasan. Tapi juga tidak merasa paling benar. Tidak merasa paling berjasa. Tidak merasa paling memberi.

Surat Al-Ikhlas mengajarkan hal itu. Dengan diam, ia mengajarkan keteguhan. Dengan pendek, ia menyampaikan ketegasan. Dengan tidak menyebut kata “ikhlas,” justru ia menghidupkan maknanya.

Dan lagu Komang mungkin sedang mencoba berkata hal yang sama: cinta yang paling dalam tidak selalu perlu disebut namanya.

Begitu pula amal. Ia tak selalu perlu diumumkan. Cukup dilakukan. Dengan niat lurus dan hati yang takut tidak diterima.

Karena keikhlasan sejati bukan tentang pengakuan, tapi tentang pengabdian.

Wallahualam bissawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Search