Salah satu ibadah yang dilaksanakan umat Islam di bulan Ramadan adalah iktikaf. Amalan ini merujuk pada surat Al-Baqarah [2]: 187. “Dan janganlah kamu kumpuli istrimu ketika kamu sedang iktikaf di masjid.”
Banyak referensi Hadis Nabi terkait iktikaf. “Nabi Muhammad SAW beriktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan hingga beliau wafat (HR. Bukhari, Muslim dari Aisyah RA). Iktikaf pada sepuluh hari terakhir dimaksudkan agar mendapatkan kemuliaan ibadah pada malam Lailatul Qadar. “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dari Aisyah RA).
Iktikaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti berdiam diri, menetap, atau mengurung diri di suatu tempat. Menurut istilah fikih, iktikaf adalah berdiam diri (menetap) di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Beriktikaf dimaksudkan untuk mendapatkan ketenangan, mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari hiruk pikuk duniawi.
Dalam tradisi tasawuf, iktikaf hampir sama dengan uzlah yang dilakukan para sufi. Ketenangan dan kedamaian diraih dengan memperbanyak bertafakur, berzikir, dan melaksanakan salat sunah. Banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk berzikir (al. Qs. Al-Baqarah [2]: 153). Mukmin sejati bergetar hatinya ketika disebut nama Allah (Qs. Al-Anfal [8]: 9) karena kerinduan dan cinta mereka.
Kesibukan duniawi terkadang membuat manusia merasa suntuk, penat, letih, dan lelah. Dalam tradisi agama lain, iktikaf itu hampir sama dengan bersemedi, bertapa, kontemplasi, atau retret. Di tengah hiruk-pikuk, kegaduhan, dan kebisingan, manusia perlu ketenangan (quiet, tranquility). Tidak semua peristiwa dan pernyataan harus direspon. Ada yang cukup dilewati (skip). Tidak semua informasi penting. Tidak semua berita berguna.
Dengan beriktikaf kita mampu memilah voice (suara) dari noise (kegaduhan), fact dari fake (palsu), hak (benar) dari hoaks (bohong). Dalam doa kita meminta diberikan petunjuk oleh Allah agar yang benar tampak benar dan diberikan kekuatan untuk mengikutinya. Kita memohon agar yang salah tampak salah dan diberikan keberanian untuk menjauhinya.
Ramadan akan terasa semakin tenang dan damai, apabila kita beriktikaf meninggalkan semua bentuk kegaduhan politik, intrik kekuasaan, fitnah, dan sebagainya. Ada pepatah diam itu emas. Nabi bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah RA).
