Jumat Barakah
Sebagaimana yang disampaikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Ilmu itu lebih baik daripada kekayaan, karena kekayaan harus dijaga, sedangkan ilmu akan menjagamu.”
Ucapan ini mengandung hikmah yang sangat dalam tentang perbandingan antara dua hal yang sering menjadi tujuan hidup manusia: ilmu dan harta. Sayyidina Ali pernah berkata:
“Ilmu akan menjaga engkau, sedangkan engkau harus menjaga harta. Ilmu itu adalah hakim, sedangkan harta adalah pihak yang diadili. Harta akan berkurang apabila dibelanjakan, sedangkan ilmu justru akan bertambah apabila diamalkan dan disebarkan.”
Kelebihan ilmu dibandingkan dengan harta dapat dilihat dari berbagai sisi yang saling bertolak belakang, di antaranya:
1. Ilmu Menjaga Pemiliknya, Harta Harus Dijaga
Ilmu memiliki kekuatan untuk melindungi pemiliknya dari kebodohan, kesesatan, bahkan dari perbuatan dosa. Sementara harta justru menuntut perhatian dan penjagaan. Semakin banyak harta, semakin besar pula kekhawatiran akan kehilangannya.
2. Ilmu Bertambah dengan Diamalkan, Harta Berkurang Saat Dibelanjakan
Ilmu adalah satu-satunya kekayaan yang tidak akan habis bila dibagikan. Bahkan, semakin dibagikan, semakin bertambah keberkahan dan pemahaman seseorang. Sebaliknya, harta setiap kali diinfakkan atau dibelanjakan, jumlahnya akan berkurang, kecuali jika dibelanjakan di jalan Allah yang berbuah pahala.
3. Ilmu Menyertai Hingga ke Alam Kubur, Harta Hanya Menemani di Dunia
Ketika seseorang wafat, hartanya akan ditinggalkan untuk ahli waris. Namun, ilmu yang dimilikinya akan tetap menyertainya, bahkan menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakannya.”
4. Ilmu Memuliakan Hati dan Jiwa
Ilmu menjadikan hati seseorang bersih, jiwanya tenang, dan akhlaknya mulia. Orang yang berilmu dihormati bukan karena penampilannya, tetapi karena kualitas pemikirannya. Sementara harta, jika tidak disertai dengan keimanan dan akhlak mulia, justru dapat menimbulkan sifat buruk seperti rakus, kikir, dan cinta dunia.
5. Harta Bisa Menyesatkan, Ilmu Mengantarkan pada Ketawadhuan
Kekayaan dunia sering kali membuat manusia merasa sombong, tinggi hati, dan semena-mena. Namun, ilmu yang sejati membawa pemiliknya kepada ketawadhu’an, kesadaran diri, serta penghambaan yang tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Kemuliaan Pemilik Harta Bergantung pada Kedermawanannya, Pemilik Ilmu Dipuji Karena Ilmunya
Orang kaya dipuji ketika ia mau berbagi dan menggunakan hartanya untuk kebaikan (takhliyyah). Namun orang yang berilmu mendapat pujian karena ilmunya yang melekat pada dirinya (tahliyyah), tanpa perlu melepaskannya.
7. Orang Kaya Sering Dihantui Ketakutan, Orang Berilmu Hidup dalam Ketenangan
Pemilik harta sering merasa gelisah: gelisah saat belum memiliki, dan takut kehilangan ketika sudah mendapatkannya. Sebaliknya, orang yang kaya ilmu hidup dalam kedamaian, karena kekayaan sejatinya ada dalam hati dan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan.
8. Ilmu Menunjukkan Jalan Menuju Allah, Harta Menunjukkan Dunia
Seorang ‘aalim (ulama, orang berilmu) akan mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan akhlaknya. Sedangkan orang yang hanya sibuk menumpuk harta, sering kali hanya memperlihatkan dunia dan kemegahannya sebagai pusat perhatian.
Kesimpulannya, ilmu adalah kekayaan sejati yang akan menjaga pemiliknya dari gelapnya kebodohan, dari kesesatan dan kerusakan. Harta memang penting, tetapi bukan yang paling utama. Ilmu akan membimbing kita menuju jalan kebenaran, menumbuhkan rasa syukur, dan menjadikan hidup lebih bermakna.
Insya Allah bermanfaat. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang mencintai ilmu dan menjadikannya cahaya dalam perjalanan hidup kita. Aamiin. (*)
