Tulisan ini semata saya tulis sebagai refleksi terhadap simbol kekuasaan global dan kegelisahan akhir zaman, yang secara kolektif puzzle-puzzle dunia modern mulai tersusun rapi menuju era akhir zaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, karya populer seperti One Piece tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga mulai dibaca sebagai cermin kegelisahan zaman. Salah satu tokoh yang paling memantik diskusi adalah sosok misterius yang diam-diam duduk di atas “Tahta Kosong”, simbol bahwa tidak ada satu pun manusia yang berhak menguasai dunia.
Namun dalam cerita, realitas justru berbalik. Im-sama adalah penguasa tertinggi yang tersembunyi, bahkan otoritas formal seperti Gorosei (lima tetua) tunduk kepadanya. Pada titik ini, fiksi seakan berbicara lebih jauh tentang kekuasaan, tentang manipulasi dan tentang sesuatu yang lebih besar, yaitu narasi penguasaan dunia yang tidak terlihat.
Pertanyaannya, apakah ini hanya cerita fiksi? Ataukah ia menyentuh kesadaran manusia yakni ketakutan akan kekuasaan global yang menyesatkan di akhir zaman?
Tahta Kosong dan Ilusi Kekuasaan Dunia
Dalam dunia One Piece, “Empty Throne” adalah simbol kesepakatan bahwa tidak ada satu pun penguasa tunggal dunia. Namun keberadaan Im-sama meruntuhkan simbol itu. Ia adalah realitas di balik ilusi.
Fakta ini mengingatkan pada banyak teori politik modern tentang hidden power atau kekuasaan yang bekerja di balik sistem formal. Dalam ilmu sosial, konsep ini sering dibahas sebagai oligarki global atau kekuasaan elit yang mengendalikan arah dunia melalui ekonomi, media dan politik.
Menariknya, gagasan tentang penguasa tersembunyi bukan hanya milik teori konspirasi modern, melainkan telah lama hadir dalam narasi agama, terutama dalam pembahasan tentang akhir zaman.
Dajjal: Simbol Hoax Terbesar
Dalam Islam, figur yang paling sentral dalam narasi akhir zaman adalah Dajjal. Kata Dajjal sendiri berasal dari akar kata da-ja-la yang berarti menutupi kebenaran dengan kebohongan.
Nabi Muhammad ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas:
“مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ أَمْرٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ”
“Tidak ada fitnah yang lebih besar sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat selain fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Dajjal bukan tokoh biasa, dia puncak dari seluruh bentuk penyesatan manusia.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ الدَّجَّالَ”
“Tidak ada satu nabi pun kecuali telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menekankan bahwa ancaman Dajjal bersifat lintas zaman dan universal.
Isyarat Al-Qur’an tentang Penyesatan
Meskipun Al-Qur’an tidak menyebut Dajjal secara eksplisit, banyak ayat yang memberi peringatan tentang penyesatan besar di dunia.
Allah berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin yang membisikkan perkataan indah untuk menipu.”
(QS. Al-An‘am: 112)
Ayat ini menggambarkan bahwa penyesatan tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan, tetapi sering hadir melalui narasi yang indah, sistem yang rapi, dan kekuasaan yang tampak sah.
Di sinilah relevansi refleksi terhadap tokoh seperti Im-sama menjadi menarik: ia bukan hanya sosok jahat, tetapi simbol kekuasaan yang tersembunyi di balik legitimasi sistem.
Simbol dan Ketakutan Kolektif Manusia
Wujud Im-sama yang digambarkan bertanduk, bersayap, dengan gambar mata di tubuh dan awan hitam penuh mata, seakan membawa simbol:
– tanduk dan sayap gelap berarti kekuatan iblis
– gambar mata di tubuh berarti pengawasan total
– awan hitam berarti kekuatan tak kasat mata
– tahta kosong berarti legitimasi kekuasaan global
Simbol “mata yang melihat segalanya” bahkan sering dikaitkan dalam kajian budaya dengan konsep all-seeing eye, yang dalam berbagai teori dikaitkan dengan pengawasan global dan kontrol informasi.
Apakah ini kebetulan? Atau refleksi dari kecemasan manusia modern yang hidup di era surveillance society?
Narasi Serupa dalam Tradisi Agama Lain
Menariknya, konsep tentang tokoh penipu akhir zaman tidak hanya ada dalam Islam.
Dalam tradisi Kristen dikenal istilah Antichrist, yang dalam New Testament digambarkan sebagai sosok yang akan menyesatkan manusia sebelum kedatangan Yesus.
Dalam tradisi Yahudi terdapat figur Armilus, sementara dalam Hindu dikenal konsep Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan ketika kejahatan mendominasi sebelum datangnya pemulihan.
Kesamaan ini menunjukkan bahwa manusia, lintas agama dan peradaban, memiliki kesadaran kolektif tentang bahaya kekuasaan yang menyesatkan di akhir zaman.
Beberapa kajian modern mencoba memahami Dajjal tidak hanya sebagai sosok literal, tetapi juga sebagai simbol sistem global yang menipu manusia.
Muhammad Zaini dalam artikelnya di El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies menyebut bahwa Dajjal dapat dipahami dalam dua dimensi: literal dan simbolik, di mana simbolik merujuk pada “sistem penipuan global yang mempengaruhi kesadaran manusia” (Zaini, 2020).
Dalam konteks ini, narasi dalam One Piece menjadi relevan. Ia bukan wahyu, bukan pula kebenaran teologis, tetapi bisa jadi cermin dari realitas psikologis manusia modern.
Bahwa manusia hari ini hidup dalam dunia: informasi yang bisa dimanipulasi, kekuasaan yang tidak selalu terlihat dan sistem yang tampak adil namun bisa menyimpan ketimpangan
Pelajaran Spiritual di Tengah Misteri
Pada akhirnya, apakah Im-sama adalah representasi Dajjal? Tentu tidak bisa disimpulkan demikian. One Piece tetaplah karya fiksi.
Namun, kesamaan simbol dan narasi yang muncul memberi kita ruang refleksi:
bahwa bahaya terbesar bukan hanya kekuasaan itu sendiri, tetapi kemampuan kekuasaan untuk menipu manusia, menutupi kebenaran dan mengaburkan informasi.
Di sinilah pesan Al-Qur’an menjadi sangat relevan:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS. Al-Baqarah: 147)
Dalam dunia yang penuh simbol, narasi dan banyaknya manipulasi, manusia dituntut untuk tetap berpegang pada wahyu sebagai sumber kebenaran.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari seluruh kisah ini:
bahwa di balik segala misteri dunia, iman adalah satu-satunya cahaya yang tidak bisa dimanipulasi. (*)
