Masjid memiliki banyak fungsi. Selain sebagai tempat manusia menghadap Tuhan, masjid juga menjadi tempat manusia belajar memahami manusia. Saat dunia yang masih diselimuti peperangan dan berbagai ketegangan, peran imam masjid menjadi semakin penting.
Imam memiliki kedekatan yang tidak selalu dimiliki oleh pemimpin formal. Lima kali sehari, imam berjumpa dengan umat. Mereka hadir di tengah masyarakat, menyentuh kehidupan umat secara langsung.
Berdasarkan fakta itu, imam sesungguhnya memiliki modal sosial yang besar untuk menjadi duta perdamaian. Diplomasi formal terkadang memiliki batas, karena protokol atau sikap politik. Ketika bahasa politik dan kepentingan negara tidak lagi mampu mempertemukan pihak-pihak yang bertikai, mungkin perlu ada bahasa lain yang dapat mengetuk pintu hati, yaitu bahasa kemanusiaan.
Manusia boleh berbeda agama, etnis, bangsa, dan warna kulit. Tetapi rasa kemanusiaan tidak mengenal batas-batas itu. “We believe humanity is only one” atau kami yakin kemanusiaan itu hanya satu.
Di sinilah agama menemukan salah satu peran terpentingnya. Agama tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Masjid dapat menjadi meeting point. Tempat orang yang berbeda bertemu, berbicara, mendengarkan, dan mencari jalan damai.
Imam tidak cukup hanya menjadi pemimpin ritual. Ia juga perlu menjadi penjaga kemanusiaan. Bahkan penjaga lingkungan agar tidak dirusak oleh ambisi tanpa batas. Sebab pada akhirnya, perdamaian tidak hanya dibangun melalui meja diplomasi. Ia juga bisa dibangun dari mimbar-mimbar yang menyampaikan pesan kasih sayang, dari masjid-masjid yang membuka ruang perjumpaan, dan dari hati manusia yang kembali menemukan bahwa kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan. (*)
