Imam Tarawih dan Keindahan Tadabbur Qur’an

*) Oleh : Hanif Asyhar, M.Pd.
Trainer Spiritual Healthy Parenting dan Konsultan Pengembang Pendidikan.
www.majelistabligh.id -

Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, di mana malam-malamnya dihidupkan dengan ibadah salat Tarawih. Suasana syahdu semakin terasa saat imam melantunkan ayat-ayat Allah Swt dengan bacaan tartil dan suara merdu sehingga membawa jamaah menyelami samudra makna atau tadabbur Qur’an.

Suara imam yang menggetarkan jiwa tidak hanya menjadi pelengkap salat, tetapi juga menjadi jembatan penghubung antara hati manusia dengan Al-Qur’an, mengubah setiap malam Ramadan menjadi momen untuk melakukan kontemplasi spiritual yang spesial.

Oleh karena itu, posisi seorang imam sangatlah penting dalam membawa suasana syahdu serta khusyuk para jamaah salat. Maka penentuan seorang imam  sangatlah strategis dalam rangka memberikan pelayanan ibadah salat tarawih yang maksimal. Untuk menjadi seorang imam yang baik, tentu ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebagai acuannya agar para jamaah dapat dengan khusyuk melakukan tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an.

Tadabbur, atau merenungkan makna ayat, merupakan tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٢٩

“(Al-Qur’an ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

Di saat imam tarawih membaca Al-Qur’an dengan tartil, maka makmum yang memahami atau merenungkan maknanya akan merasakan getaran iman, keindahan janji Allah Swt, serta ketakutan akan ancaman-Nya, menjadikan salat bukan sekadar gerakan fisik. Menjadi seorang imam tidak hanya bermodal keberanian semata, tetapi harus memiliki kemampuan bacaan yang baik, memahami tajwidnya sehingga bacaannya dapat terdengar dengan jelas sesuai makhrajnya.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ ‌قَامَ ‌رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa beribadah di bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR.Bukhari-Muslim).

Salah satu cara menghidupkan tersebut adalah dengan tadabbur. Kisah sahabat Nabi, Ubay bin Ka’ab merupakan teladan dalam hal ini. Ia dikenal sebagai pembaca Al-Qur’an terbaik dan sering mendapatkan amanah sebagai imam salat karena lantunan bacaannya yang meresap hati.

Para sahabat tidak sekadar mengejar khatam Al-Qur’an, tetapi berusaha memahaminya. Mereka belajar ayat-ayat dari Rasulullah dan tidak menambahnya sebelum memahami serta mengamalkannya. Dalam salat Tarawih, saat mendengar ayat tentang surga, hati akan merasakan kerinduan yang sangat dalam. Saat mendengar ayat tentang neraka, hati akan merasakan getaran. Inilah keindahan interaksi dengan Al-Qur’an.

Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027).

Imam tarawih yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh penghayatan adalah perantara yang menanamkan cinta Al-Qur’an di hati para jamaahnya. Oleh karena itu, melalui tarawih dan tadabbur, kita diajak merenung sejauh mana Al-Qur’an telah memperbaiki hidup kita? Mari jadikan setiap lantunan imam di malam Ramadan sebagai madrasah cinta, meresapi ayat-ayat-Nya, agar puasa kita berkualitas dan hati bercahaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search