#Ketika Akal Didewakan, Tuhan Disingkirkan
Mari jujur: ada yang rusak dalam cara kita memahami ilmu hari ini. Kita memproduksi sarjana, tapi kehilangan manusia. Kita membangun peradaban berbasis data, tapi gagal membangun kesadaran. Dunia modern membanggakan dirinya sebagai puncak kemajuan pengetahuan, padahal diam-diam ia sedang mengalami kebangkrutan paling fatal: krisis epistemologi.
Masalahnya sederhana tapi jarang diakui—ilmu hari ini berjalan tanpa Tuhan.
Semua bermula ketika Barat memisahkan cara mengetahui dari sumber kebenaran yang hakiki. Rasionalisme ala René Descartes mengangkat akal sebagai otoritas tertinggi. “Aku berpikir maka aku ada”—sebuah kalimat yang terdengar cerdas, tapi menyimpan kesombongan epistemologis: seolah berpikir saja cukup untuk menemukan kebenaran.
Lalu datang empirisme John Locke dan David Hume yang mempersempit lagi: yang tidak bisa dilihat, disentuh, atau diuji dianggap tidak valid. Puncaknya, positivisme Auguste Comte secara terang-terangan “mengusir” Tuhan dari wilayah ilmu.
Hasilnya? Kita punya sains tanpa makna, teknologi tanpa arah, dan manusia tanpa tujuan. Kita bisa menjelaskan bagaimana alam bekerja, tapi tidak tahu untuk apa hidup. Kita bisa menciptakan kecerdasan buatan, tapi gagal memahami kebodohan eksistensial kita sendiri. Dunia modern bukan kekurangan ilmu—ia kelebihan informasi tapi kehilangan hikmah.
Ironisnya, umat Islam justru ikut terseret dalam arus ini. Kita menghafal konsep Barat tanpa kritik, menelan epistemologi mereka tanpa sadar, lalu bertanya kenapa hidup terasa kosong. Kita belajar berpikir, tapi lupa bagaimana cara “membaca”.
Padahal, sejak awal Islam sudah menawarkan revolusi epistemologi yang jauh lebih radikal. Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad bukan “berpikir”, bukan “mengamati”, tapi “Iqra’!”—bacalah. Dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, ini bukan sekadar perintah membaca teks, tapi perintah untuk membangun cara mengetahui yang utuh: membaca realitas, membaca diri, dan membaca wahyu dalam satu kesatuan tauhid.
Iqra’ tidak menolak akal—tapi menolak kesombongan akal.
Iqra’ tidak menolak empiris—tapi menolak reduksi kebenaran hanya pada yang terindra.
Iqra’ tidak mematikan sains—justru menghidupkannya dengan arah.
Inilah yang tidak dimiliki epistemologi modern: orientasi.
Tanpa wahyu, akal bisa liar. Tanpa Tuhan, ilmu bisa salah arah. Dan ketika arah hilang, kemajuan justru menjadi ancaman. Kita melihatnya hari ini: krisis moral, krisis identitas, krisis makna. Semua itu bukan kegagalan teknologi—tapi kegagalan cara berpikir.
Jadi persoalannya bukan apakah kita sudah cukup pintar. Persoalannya: apakah kita masih tahu ke mana arah kepintaran itu digunakan?
Dan mungkin ini yang paling mengganggu:
kita bangga dengan ilmu kita, tapi jangan-jangan…
kita belum pernah benar-benar “Iqra’”. (*)
