Kepala madrasah Muhammadiyah dituntut untuk memiliki ketangguhan dan tidak sekadar menjalankan fungsi administratif. Lebih dari itu, mereka harus mampu menjadi penggerak perubahan dengan berani keluar dari zona nyaman, membangun jejaring, menciptakan inovasi, serta memunculkan keunggulan khas madrasah agar menjadi pilihan utama (first choice) masyarakat.
Pesan tegas tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd., saat membuka Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Region Jawa Tengah 2 di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari (15–18 Oktober 2026) ini diikuti oleh 221 kepala madrasah Muhammadiyah se-Jawa Tengah dengan mengusung tema “Menguatkan Mutu untuk Mewujudkan Madrasah Muhammadiyah Unggul Berwawasan Global”.

Dalam amanatnya, Irwan Akib merinci enam filosofi dan karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang kepala madrasah yang tangguh:
1.Bermental Nakhoda Kapal Pinisi, Bukan Sopir Bus
Berbeda dengan sopir yang hanya mengikuti rute kaku, seorang nakhoda harus adaptif, peka membaca situasi, serta sigap menyesuaikan layar di tengah terpaan angin dan badai perkembangan zaman.
2. Memiliki Visi Jauh ke Depan (Visionary)
Berani mengambil langkah strategis meski berangkat dari kondisi terbatas. Kualitas ini dicontohkan oleh tokoh seperti Pak Malik Fajar saat membangun UMM di Tlogomas, maupun Ciputra yang mampu mengubah lahan mati menjadi kawasan bernilai tinggi.
3. Bebas dari Inferiority Complex (Rasa Minder)
Tidak memandang madrasah sebagai lembaga “kelas dua” dibanding sekolah umum. Ketangguhan berawal dari rasa percaya diri bahwa madrasah memiliki keunggulan unik dan mampu melahirkan tokoh-tokoh besar.
4. Berani “Membakar Kapal”
Mengambil analogi panglima perang, kepala madrasah harus berani membuang cara pikir lama, rasa cepat puas, dan pola mengajar konvensional yang berpotensi mematikan lembaga.
5. Mampu Mengolah Pasir dan Kerikil Menjadi Mutiara
Mengingat input peserta didik di sekolah swasta sangat beragam, ketangguhan pengelola diuji dalam proses pembinaan hingga mampu mengubah siswa biasa menjadi lulusan yang berprestasi dan bernilai tinggi.
6. Memegang Prinsip “Hilangkan Keluhan, Hadirkan Ketulusan dan Kerja Keras”
Ketangguhan dibuktikan melalui tindakan nyata, optimisme, dan inovasi pantang menyerah meski harus merintis dari nol.
Irwan menegaskan bahwa sekolah dan madrasah sama-sama memiliki tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Perbedaan kementerian yang menaungi keduanya tidak boleh menjadi penghalang untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas, lokasi, maupun sumber daya tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Dengan visi, keberanian, dan kerja keras, keterbatasan justru dapat diubah menjadi peluang.
Ia juga menekankan pentingnya mengembangkan potensi setiap peserta didik. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kondisi siswa saat pertama kali masuk, tetapi oleh kemampuan lembaga dalam membimbing mereka hingga unggul.
“Tugas kita adalah mengubah anak-anak yang semula seperti pasir menjadi mutiara. Prosesnya memang tidak mudah, tetapi sangat bisa dilakukan jika kita memiliki semangat untuk itu,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia berpesan agar kepala madrasah senantiasa kuat dan tidak mudah mengeluh. “Hilangkan keluhan, hadirkan ketulusan. Ketulusan harus disertai kerja nyata,” tegasnya.
Perkuat Identitas Kemuhammadiyahan dan Daya Saing Global
Sejalan dengan arahan PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah (sekaligus Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen), Dr. Iwan Junaedi, M.Pd., mendorong para kepala madrasah untuk berani melakukan perubahan dan tidak sekadar berpindah dari satu diklat ke diklat lainnya.
“Para kepala madrasah Muhammadiyah harus berani melakukan perubahan, sekecil apa pun itu, selama berdampak pada mutu madrasah. Itulah makna tajdid dan inovasi yang sering dikumandangkan oleh Menteri Dikdasmen,” kata Iwan.
Iwan meminta para kepala madrasah menyusun perencanaan yang matang dan terukur. “Setelah Diksuskamad ini, segera laksanakan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Tentukan prioritas tahun 2026 agar madrasah Muhammadiyah kita makin unggul dan berkemajuan,” tambah Iwan yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jawa Tengah.
Ia menegaskan bahwa Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah akan terus mendampingi para kepala sekolah dan madrasah agar transformasi dapat terwujud menuju satuan pendidikan yang unggul dan berdaya saing.
Apresiasi dan Dukungan Kementerian Agama
Dukungan terhadap penyelenggaraan Diksuskamad turut disampaikan oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah melalui Muhammad Asyik, S.T., dari Bidang Pendidikan Madrasah.
Muhammad Asyik memaparkan bahwa dari 11.985 madrasah di Jawa Tengah, hanya 308 (sekitar 3%) yang berstatus negeri, sedangkan 97% sisanya dikelola oleh masyarakat dan ormas—dengan Muhammadiyah mengelola sekitar 1.650 madrasah (14–15%).
“Data ini menunjukkan bahwa Kemenag tidak bisa berjalan sendiri dalam menjaga mutu pendidikan. Inisiatif Muhammadiyah membina para kepala madrasahnya secara langsung membantu tugas pemerintah menyediakan layanan pendidikan berkualitas,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelatihan kepemimpinan ini sangat sejalan dengan Asta Protas Kemenag untuk mewujudkan madrasah yang Unggul, Ramah, dan Terintegrasi, sekaligus merespons kepercayaan masyarakat yang kini kian menjadikan madrasah sebagai pilihan utama pendidikan anak. (*)
