Al-Qur’an menggambarkan akhir perjalanan manusia dengan bahasa yang tegas sekaligus menggugah kesadaran. Kehidupan dunia bukanlah titik akhir, melainkan fase ujian yang menentukan kemuliaan atau kehinaan di akhirat. Allah menghadirkan dua pemandangan kontras, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat-Nya digiring menuju neraka Jahanam dalam keadaan terhina, sementara orang-orang yang bertakwa diantar ke surga dengan penuh penghormatan dan salam keselamatan.
Kontras ini menegaskan bahwa iman dan ketakwaan bukan sekadar klaim, tetapi sikap hidup yang berdampak langsung pada nasib akhir manusia. Islam, melalui ajaran tauhid dan ketundukan kepada Rasul, sejatinya merupakan ajakan lembut agar manusia memilih jalan keselamatan, bukan kehancuran.
Kesombongan dan Kehinaan
Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang kafir pasti akan digiring ke neraka Jahanam secara berombongan, dan dipaksa penuh kehinaan. Mereka tidak berjalan dengan kehendak sendiri, melainkan diseret menuju tempat yang paling mereka ingkari selama hidup di dunia. Ketika pintu-pintu neraka dibuka, para penjaga bertanya dengan nada penyesalan, “Bukankah telah datang para rasul yang membacakan ayat-ayat Allah dan memberi peringatan ? Pertanyaan ini bukan untuk mencari jawaban, tetapi sebagai hujjah bahwa kekafiran mereka adalah pilihan sadar, bukan ketidaktahuan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَسِيْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ زُمَرًاۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَتْلُوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَاۗ قَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ
Orang-orang yang kufur digiring ke (neraka) Jahanam secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana, pintu-pintunya dibuka dan para penjaganya berkata kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu pertemuan (dengan) harimu ini?” Mereka menjawab, “Benar, (telah datang para rasul).” Akan tetapi, ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir. (QS. Az-Zumar : 71)
Puncak kehinaan itu ketika mereka diseret menuju tempat terburuk karena kesombongan mereka. Semua itu diakibatkan sikap sombong yang terus dipipuk. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
قِيْلَ ادْخُلُوْٓا اَبْوَابَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ
Dikatakan (kepada mereka), “Masuklah pintu-pintu (neraka) Jahanam (untuk tinggal) di dalamnya selama-lamanya!” Maka, (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur. (QS. Az-Zumar : 72)
Fir‘aun layak dijadikan sebagai contoh. Dia bukan sekadar menolak dakwah Nabi Musa, tetapi menantangnya dengan keangkuhan, bahkan mengklaim diri sebagai tuhan tertinggi. Kekuasaan, kemewahan, dan pengaruh membuatnya buta terhadap kebenaran. Akhirnya, Fir‘aun ditenggelamkan dalam kehinaan, menjadi pelajaran abadi bahwa kesombongan terhadap ayat-ayat Allah hanya akan berujung pada kebinasaan.
Fenomena ini tidak berhenti pada kisah sejarah. Dalam kehidupan modern, kesombongan sering menjelma dalam bentuk penolakan terhadap nilai ilahi, merasa cukup dengan akal, harta, atau jabatan, serta menganggap peringatan agama sebagai penghalang kebebasan. Sikap seperti inilah yang secara perlahan menggiring manusia menuju nasib yang sama: kehinaan di hadapan Allah.
Ketundukan dan Kemuliaan
Berbeda sepenuhnya dengan nasib orang kafir, Al-Qur’an menggambarkan orang-orang bertakwa dengan sebaliknya. Mereka membawa iman dan ketundukan pada aturan yang disampaikan rasul-Nya. Mereka diantarkan ke surga penuh penghormatan. Pintu-pintu surga telah dibuka, dan para penjaganya menyambut dengan salam keselamatan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًاۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ
Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka, “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), berbahagialah kamu. Maka, masuklah ke dalamnya (untuk tinggal) selama-lamanya!” (QS. Az-Zumar : 73)
Ketakwaan tercermin dalam ketaatan yang konsisten, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Mereka berbuat amal kebaikan ketika di dunia, sehingga di akhirat menunai kebaikan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَوْرَثَنَا الْاَرْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاۤءُۚ فَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ
Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya dan mewariskan bumi (di akhirat) ini kepada kami sehingga dapat menempati surga sesuai dengan kehendak kami.” (Surga adalah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal (saleh). (QS. Az-Zumar : 74)
Contoh paling mulia adalah para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Mereka tunduk sepenuhnya pada perintah Rasul, mendahulukan ketaatan di atas kepentingan pribadi. Abu Bakar dengan keikhlasan hartanya, Umar dengan keadilan dan ketegasannya, Utsman dengan kedermawanannya, dan Ali dengan ilmu serta keberaniannya. Semua menunjukkan bahwa ketakwaan melahirkan kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Surga bukan sekadar kenikmatan, tetapi bukti bahwa janji Allah pasti benar. Ia adalah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, yakni mereka yang menjadikan iman sebagai fondasi dan amal saleh sebagai wujud nyata ketundukan.
Dengan demikian, kekafiran yang disertai kesombongan mengantarkan pada kehinaan dan azab, sebagaimana ditunjukkan oleh Fir‘aun dan orang-orang sejenisnya. Sebaliknya, ketakwaan yang diwujudkan dalam ketaatan dan kesungguhan amal mengantarkan pada kemuliaan dan surga, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat Nabi. Islam, dengan seluruh ajarannya, adalah ajakan lembut agar manusia memilih jalan yang kedua, jalan iman, ketundukan, dan keselamatan. Pada akhirnya, setiap manusia akan digiring menuju akhir yang sesuai dengan pilihan hidupnya sendiri, menuju kehinaan atau menuju kemuliaan abadi.
Surabaya, 30 Januari 2026
