Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat paling agung dalam sejarah kenabian Nabi Muhammad. Ia bukan sekadar perjalanan fisik dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, lalu naik menembus lapisan langit, tetapi sebuah madrasah keimanan yang Allah siapkan untuk mendidik Rasul-Nya dan umat Islam sepanjang zaman. Dalam berbagai kajiannya, Ustadz Adi Hidayat (UAH) kerap menegaskan bahwa Isra Mikraj menyimpan pelajaran mendasar yang menyentuh tiga pilar utama kehidupan beragama, yaitu iman, ibadah, dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup.
Penguatan Akidah dan Iman kepada yang Ghaib
Menurut Ustadz Adi Hidayat, Isra Mikraj sejatinya adalah ujian iman, bukan ujian logika. Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dalam satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis, lalu naik hingga Sidratul Muntaha, jelas melampaui hukum kebiasaan manusia. Karena itulah, peristiwa ini menjadi pemisah yang tegas antara orang yang beriman sepenuh hati dan mereka yang masih menggantungkan keyakinannya pada rasio semata.
Allah SWT berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.”
(QS. Al-Isrā’: 1)
UAH menyoroti penggunaan kata “bi‘abdihī” (hamba-Nya) dalam ayat tersebut. Penyebutan ini menunjukkan bahwa Isra Mikraj adalah bentuk pemuliaan Allah kepada hamba yang sempurna dalam penghambaan. Semakin kuat akidah dan ketundukan seseorang kepada Allah, semakin lapang pula hatinya untuk menerima perkara-perkara ghaib.
Karakter orang beriman ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang ghaib.”
(QS. Al-Baqarah: 3)
Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan Isra Mikraj tanpa keraguan menjadi teladan bahwa iman sejati berdiri di atas kepercayaan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada keterbatasan nalar manusia.
Salat sebagai Kebutuhan Jiwa, Bukan Sekadar Kewajiban
Salah satu penekanan penting UAH dalam menjelaskan Isra Mikraj adalah kedudukan salat. Salat merupakan satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung di langit, tanpa perantara malaikat. Hal ini menunjukkan bahwa salat bukan ibadah biasa, melainkan kebutuhan ruhani manusia agar tetap terhubung dengan Allah SWT.
Pada awalnya, salat diwajibkan sebanyak 50 waktu, lalu diringankan menjadi 5 waktu dengan pahala tetap 50. Menurut UAH, peristiwa ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia yang lemah, sekaligus menegaskan bahwa salat adalah tiang utama kehidupan seorang mukmin.
Rasulullah bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ
“Salat adalah tiang agama.”
(HR. Thabrani)
Allah SWT juga menegaskan dampak shalat terhadap perilaku seorang hamba:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)
UAH kerap mengingatkan bahwa jika salat belum mampu memperbaiki akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan ajarannya, melainkan kualitas salat itu sendiri, apakah dikerjakan dengan kehadiran hati atau sekadar rutinitas jasmani.
Jalan ke Langit Dimulai dari Kesabaran di Bumi
Isra Mikraj tidak terjadi pada masa kejayaan Rasulullah, tetapi justru setelah beliau melewati fase paling berat dalam hidupnya, yang dikenal sebagai Amul Huzn (tahun kesedihan). Wafatnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib menjadi ujian berat secara emosional sekaligus sosial dalam perjuangan dakwah.
Ustaz Adi Hidayat juga menegaskan bahwa pertolongan besar Allah sering kali datang setelah kesabaran mencapai puncaknya. Rasulullah bersabar menghadapi penolakan, cemoohan, dan kesedihan, hingga akhirnya Allah mengangkat derajat beliau dengan perjalanan langit yang belum pernah dialami manusia mana pun.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirāḥ: 5–6)
Pesan ini sangat relevan bagi umat Islam saat ini: jangan tergesa-gesa berputus asa saat hidup terasa berat, karena bisa jadi Allah sedang menyiapkan kenaikan derajat yang lebih tinggi.
Melalui peristiwa Isra Mikraj, Ustadz Adi Hidayat mengajak umat Islam untuk kembali menata iman, memperbaiki kualitas salat, dan menguatkan kesabaran dalam menghadapi ujian. Iman kepada yang ghaib, salat yang berkualitas, dan keteguhan hati merupakan kunci untuk naik derajat di sisi Allah. Isra Mikraj bukan sekadar cerita tentang langit, tetapi pedoman hidup di bumi, agar manusia tetap teguh berjalan menuju Allah hingga akhir hayat.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
“Ya Allah, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
