Isra Mikraj dan Akselerasi Digital: Kecepatan Buraq dalam Transformasi Pendidikan Masa Kini

*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 04 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam yang sarat dengan pesan spiritual, intelektual, dan peradaban. Dalam satu malam, Rasulullah saw melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’), lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj).

Peristiwa luar biasa ini bukan hanya membuktikan kekuasaan Allah Swt, tetapi juga mengandung simbol percepatan (akselerasi) dan kemajuan yang relevan untuk direnungkan dalam konteks transformasi pendidikan di era digital saat ini.

Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mikraj adalah perjalanan ilahiah yang sarat dengan “tanda-tanda” (ayat-ayat kauniyah). Salah satu simbol yang menarik adalah Buraq, kendaraan Rasulullah saw yang digambarkan mampu melaju dengan kecepatan luar biasa, sejauh mata memandang. Dalam konteks kekinian, Buraq dapat dimaknai sebagai simbol percepatan peradaban dan teknologi, sebuah refleksi bahwa Islam tidak menolak kemajuan, bahkan menginspirasi umatnya untuk bergerak cepat, tepat, dan terarah.

Buraq dan Makna Kecepatan dalam Perspektif Islam

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku didatangi (Jibril) bersama Buraq, ia adalah hewan tunggangan yang berwarna putih, (ukurannya) lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal (keledai), ia menaruh kukunya di ujung (tempat) yang ia lihat.”(HR. Muslim)

Kecepatan Buraq bukan sekadar keajaiban fisik, tetapi mengandung pesan filosofis: bahwa dalam menjalankan amanah besar, termasuk amanah pendidikan, umat Islam dituntut untuk memiliki daya adaptasi, inovasi, dan percepatan. Pendidikan yang lamban dan stagnan akan tertinggal, sementara dunia terus bergerak maju dengan sangat cepat, terutama di era digital.

Akselerasi Digital dalam Pendidikan

Transformasi digital dalam pendidikan adalah keniscayaan. Pemanfaatan teknologi seperti pembelajaran daring, kecerdasan buatan (AI), platform belajar digital, dan manajemen data pendidikan merupakan bentuk “Buraq modern” yang memungkinkan proses belajar mengajar melampaui batas ruang dan waktu. Namun, akselerasi ini harus disertai dengan nilai, arah, dan tujuan yang jelas.

Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw adalah perintah membaca:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus selalu berlandaskan nilai ketuhanan. Digitalisasi pendidikan tanpa nilai akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan spiritual.

Meneladani Mikraj: Keseimbangan Spiritual dan Intelektual

Puncak peristiwa Mikraj adalah diterimanya perintah salat lima waktu, yang menjadi tiang agama dan sarana pembentukan karakter. Ini menunjukkan bahwa percepatan dan kemajuan harus berujung pada penguatan hubungan manusia dengan Allah SWT. Dalam konteks pendidikan, transformasi digital tidak boleh menghilangkan dimensi spiritual, adab, dan akhlak.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Maka, pendidikan digital yang ideal adalah pendidikan yang mampu memadukan kecepatan Buraq (teknologi dan inovasi) dengan kedalaman Mi’raj (nilai, akhlak, dan spiritualitas).

Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam di Era Digital

Tantangan utama pendidikan saat ini adalah bagaimana menjadikan teknologi sebagai sarana, bukan tujuan. Guru dan lembaga pendidikan harus bertransformasi dari sekadar penyampai materi menjadi pembimbing karakter dan fasilitator pembelajaran bermakna. Di sinilah semangat Isra Mikraj relevan: bergerak cepat, tetapi tetap berada di jalur yang diridhai Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)

Doa ini menjadi pengingat bahwa akselerasi ilmu harus terus diiringi dengan kerendahan hati dan kesadaran spiritual.

Isra Mikraj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi inspirasi peradaban. Kecepatan Buraq mengajarkan pentingnya akselerasi dan inovasi, sementara Mikraj mengingatkan bahwa puncak perjalanan manusia adalah kedekatan dengan Allah SWT. Dalam transformasi pendidikan masa kini, umat Islam ditantang untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan nilai-nilai ilahiah, melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, dan mulia dalam akhlak.

Dengan meneladani Isra Mikraj, pendidikan tidak hanya bergerak cepat mengikuti zaman, tetapi juga melaju lurus menuju tujuan hakiki: membentuk insan berilmu, beriman, dan beradab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search