Istighfar, Jalan Ampunan dan Rahmat Allah

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Hudi setiono
Peserta Sekolah Tabligh Angkatan 4 PWM Jateng

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, bahkan sering kali kesalahan tersebut berulang—hari demi hari, pekan demi pekan, hingga bulan-bulan berlalu. Namun, kita sangat beruntung karena memiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan yang Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Kuasa.

Allah telah memberikan petunjuk-Nya melalui para Rasul, agar umat manusia senantiasa memperoleh rahmat, karunia, dan ampunan-Nya.

Salah satu kalimat yang sering kali terlupakan, padahal memiliki makna yang sangat besar, adalah kalimat Astaghfirullah—”Aku memohon ampun kepada Allah.” Ini adalah awal dari kemudahan dan jalan keluar dalam hidup.

Ketika kita memohon ampun kepada Allah, dan Dia menerima taubat kita, maka urusan dunia pun akan selesai dengan cara yang tak terduga, karena Allah memberikan ketenangan dan jalan keluar dari berbagai masalah, bahkan dari arah yang tidak kita bayangkan sebelumnya.

Kita yang hidup di akhir zaman sangat beruntung, karena dapat menerima nasihat-nasihat berharga yang telah disampaikan sejak zaman Nabi-Nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW. Semua itu tertuang dalam Al-Qur’an, seperti kisah Nabi-Nabi sebelumnya yang menjadi teladan bagi kita.

Contohnya, dalam Surat Nuh, ayat 10, Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا
“Lalu, aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.'”

Dalam ayat selanjutnya, yakni ayat 11 dan 12, dijelaskan pula berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari istighfar.

Sebuah kisah terkenal dari Al-Hasan Al-Basri rahimahullah menunjukkan betapa luar biasa manfaat istighfar. Ada seorang pria yang mengeluh kepada beliau tentang musim paceklik, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.” Kemudian, seorang lainnya mengeluh tentang kemiskinan, dan beliau memberikan nasehat yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Masih ada lagi yang mengeluh tentang kekeringan lahan, dan lagi-lagi beliau mengatakan, “Beristighfarlah kepada Allah.” Bahkan, ada yang mengeluh karena belum memiliki anak, dan beliau tetap memberikan nasehat yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Setelah itu, Al-Hasan Al-Basri membacakan ayat dari Surat Nuh yang telah disebutkan tadi, yang menjelaskan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari berbagai kesulitan jika umat-Nya memperbanyak istighfar.

Kita juga harus sadar bahwa seorang pendosa yang merasa tidak memiliki dosa adalah salah satu tanda kebodohan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW setiap hari beristighfar lebih dari 70 kali. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:

“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Dalam segala keadaan, baik ketika kita merasa terpuruk atau sedang menghadapi masalah, sangat penting untuk menyadari bahwa ada dosa yang mungkin perlu kita perbaiki. Dan salah satu cara terbaik untuk memperbaikinya adalah dengan beristighfar.

Selain itu, beristighfar juga menjadi cara agar kita terhindar dari azab atau hukuman Allah, seperti yang dijelaskan dalam Surat Al-Anfal ayat 33:

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”

Semoga kita semua selalu diberi kemudahan dan hidayah untuk terus memperbanyak istighfar, karena ini adalah jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Search