Istikamah yang Paling Sulit

Istikamah yang Paling Sulit
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Istikamah yang paling sulit bukan soal rutinitas, tapi soal hati. Banyak orang bisa konsisten dalam salat, puasa, atau membaca Al-Qur’an. Tapi menjaga hati agar tetap rendah, tidak merasa lebih baik dari orang lain, itulah medan jihad yang paling sunyi dan paling berat.

1. Istikamah dalam Merendahkan Hati
– Tidak merasa diri lebih suci atau lebih baik dari orang lain.
– Menyadari bahwa semua amal hanya bernilai jika Allah menerimanya.
– Melawan bisikan halus yang berkata, “Aku lebih baik dari dia.”

Umar bin Khattab pernah berkata, “Seandainya semua manusia masuk surga kecuali satu orang, aku khawatir akulah orang itu.” Padahal beliau adalah khalifah besar.

2. Istikamah dalam Keikhlasan
– Menjaga niat agar tetap murni karena Allah, bukan karena pujian atau pengakuan.
– Tidak silau oleh amal sendiri, dan tidak merasa cukup dengan kebaikan yang telah
dilakukan.
– Menyadari bahwa satu rakaat pun tidak akan bisa dilakukan tanpa pertolongan Allah.

Istikamah bukan hanya soal konsistensi amal, tapi tentang menjaga keikhlasan di tengah godaan riya, ujub, dan lelahnya perjalanan ruhani.

3. Istikamah Saat Iman Turun
• Tetap berusaha beribadah meski hati sedang lemah.
• Tidak menyerah ketika semangat hilang, dan tidak malu untuk memulai kembali setelah
jatuh.
• Menjadikan amalan kecil yang rutin sebagai pondasi istiqomah.

4. Istikamah Melawan Godaan Sosial
– Tidak ikut arus negatif meski lingkungan tidak mendukung.
– Menjaga aurat, waktu shalat, dan akhlak meski sendirian dalam kebaikan.
– Menolak tren yang menjauhkan dari nilai-nilai Islam.

5. Istikamah dalam Jalan Lurus Meski Digoda dari Segala Arah
– Iblis berjanji akan menggoda manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri.
– Maka istiqomah berarti bertahan di jalan Allah meski godaan datang dari segala penjuru.
– Kuncinya: amal saleh yang ikhlas dan tidak mempersekutukan Allah.

Istikamah sejati adalah jihad batin yang sunyi. Ia bukan tentang siapa yang paling terlihat rajin, tapi siapa yang paling jujur menjaga hatinya tetap tunduk dan bersih.

Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan istiqomah dalam keikhlasan, baik secara langsung maupun melalui makna yang mendalam:

QS. Fussilat: 30
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa istiqomah dimulai dari pengakuan tauhid yang tulus, lalu dijaga dengan konsistensi amal dan hati yang lurus. Keikhlasan adalah fondasi dari pengakuan “Rabbunallah”.

QS. Hud: 112
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Artinya: Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini menekankan bahwa istikamah bukan sekadar konsistensi, tapi harus sesuai dengan perintah Allah, bukan hawa nafsu. Keikhlasan diuji ketika kita tetap lurus meski tidak dipuji, tidak dilihat, atau bahkan disalahpahami.

Kenapa ayat ini dianggap paling berat?
– Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ayat ini termasuk yang membuat beliau beruban lebih cepat. Ketika Abu Bakar r.a. bertanya tentang uban beliau, Rasul menjawab:
Surat Hud dan saudara-saudaranya telah membuatku beruban.”
(HR. Tirmidzi, dari Ibnu Abbas)

– Imam Ibnu Abbas berkata:
Tidak ada ayat yang lebih berat diturunkan kepada Nabi ﷺ daripada ayat ini.”

– Imam Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa perintah فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ bukan sekadar istikamah biasa, tapi istikamah sesuai standar Allah, bukan sesuai kemampuan manusia. Ini menuntut kesempurnaan dalam akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah tanpa menyimpang sedikit pun.

QS. Al-Fatihah: 6–7
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ
Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

Doa ini adalah permohonan istikamah setiap hari. Jalan lurus bukan hanya soal amal, tapi tentang niat yang lurus dan hati yang tidak menyimpang. Keikhlasan adalah kompasnya.

“Istikamah dalam keikhlasan itu seperti berjalan di jalan lurus tanpa tanda arah, hanya cahaya tauhid dan ridha Allah yang menjadi penunjuk.”

 

Tinggalkan Balasan

Search