Itsar, Pelajaran Abadi dari Penduduk Madinah

Itsar, Pelajaran Abadi dari Penduduk Madinah
*) Oleh : Furqan Abidin
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Apa Itu Itsar?

Itsar berasal dari bahasa Arab yang berarti mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Sikap ini lahir dari keikhlasan dan kelapangan hati, ketika seseorang memandang kebutuhan orang lain lebih penting, bahkan saat dirinya sendiri juga sedang membutuhkan.

Dalam ajaran Islam, itsar merupakan salah satu puncak akhlak mulia. Sejarah Islam mencatat teladan itsar yang sangat mengagumkan dari penduduk Madinah, kaum Anshar, ketika menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah.

Teladan Itsar Kaum Anshar

Kaum Muhajirin datang ke Madinah dalam keadaan serba kekurangan. Mereka kehilangan harta benda, tempat tinggal, dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru demi mempertahankan iman. Menghadapi situasi ini, kaum Anshar menunjukkan keramahan dan kedermawanan yang luar biasa. Mereka menerima saudara-saudara mereka itu dengan suka cita, menyediakan tempat tinggal, makanan, serta perlindungan.

Tidak hanya itu, kaum Anshar bahkan rela berbagi harta dan kebun kurma yang mereka miliki. Salah satu kisah masyhur adalah saat Sa’ad bin Rabi’ menawarkan separuh hartanya dan salah satu istrinya kepada Abdurrahman bin Auf. Meski tawaran itu ditolak secara halus oleh Abdurrahman, ketulusan Sa’ad menjadi bukti mendalamnya sikap itsar dalam hati kaum Anshar.

Allah SWT mengabadikan kemuliaan sikap mereka dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9:

“…Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Menurut Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, ayat tersebut menggambarkan kemantapan iman kaum Anshar yang telah tinggal di Madinah sebelum kedatangan Muhajirin. (Tafsir al-Munir, juz 14, hlm. 458).

Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib juga menuturkan berbagai bentuk pengorbanan kaum Anshar, seperti kerelaan menahan lapar demi mengenyangkan tamu dari kalangan Muhajirin, menyediakan sebagian rumah mereka, hingga tidak menginginkan bagian dari harta fa’i. (Mafatih al-Ghaib, juz 29, hlm. 288).

Meneladani Itsar di Masa Kini

Itsar bukan hanya nilai sejarah, tetapi juga teladan moral yang relevan dalam kehidupan modern yang cenderung individualistis. Sikap ini dapat diwujudkan melalui beberapa cara berikut:

  • Berbagi

         Rela membantu dengan makanan, pakaian, atau kebutuhan lain, meskipun kondisi pribadi tidak selalu             berlebih.

  • Mengutamakan Kepentingan Umum

          Mendahulukan kebutuhan masyarakat atau organisasi dibandingkan kenyamanan pribadi.

  • Empati dan Tolong-Menolong

         Cepat tanggap membantu tetangga, teman, atau siapa pun yang sedang mengalami kesulitan.

  • Kerja Sama

          Mengutamakan keberhasilan tim di atas pencapaian individu untuk mencapai tujuan bersama.

Menumbuhkan sikap itsar akan mempererat ikatan persaudaraan, menumbuhkan kasih sayang, dan menciptakan masyarakat yang harmonis serta penuh keberkahan. Teladan kaum Anshar di Madinah menjadi pengingat bahwa mendahulukan orang lain adalah cerminan kemuliaan hati serta jalan menuju keberuntungan, sebagaimana dijanjikan Allah SWT. (*)

Tinggalkan Balasan

Search