Jabariyah Modern: Cara Licik Menjual Sabar Demi Melanggengkan Ketidakadilan

Jabariyah Modern: Cara Licik Menjual Sabar Demi Melanggengkan Ketidakadilan
*) Oleh : Didik Hermawan, M.Pd, Gr
Ketua PCPM Pakal & Pembina IPM SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya
www.majelistabligh.id -

Dalam panggung sejarah pemikiran Islam, Jabariyah muncul sebagai paham yang meyakini bahwa manusia hanyalah bidak catur di tangan takdir. Tidak ada kehendak bebas, tidak ada ruang untuk memilih. Namun, di era modern ini, paham tersebut tidak lagi berhenti di ruang diskusi teologi, ia telah bertransmigrasi menjadi sebuah strategi politik yang licik.

Jabariyah modern adalah sebuah upaya sistematis untuk mematikan nalar kritis masyarakat dengan cara menjual konsep sabar dan tawakal secara tidak tepat, demi menjaga kenyamanan struktur kekuasaan yang timpang.

Eksploitasi narasi “sudah takdir” sering kali menjadi pelarian bagi para pemangku kebijakan saat menghadapi kegagalan struktural. Ketika kemiskinan merajalela akibat korupsi atau kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, narasi yang dilemparkan ke publik adalah tentang ujian Tuhan dan keutamaan bersabar.

Di sini, agama sengaja diseret untuk mencuci tangan para penguasa dari tanggung jawab duniawi. Dengan meyakinkan rakyat bahwa penderitaan mereka adalah kehendak mutlak langit, mereka secara efektif memadamkan api kemarahan sosial yang seharusnya menjadi motor perubahan.

Sabar, dalam konteks Jabariyah modern, telah mengalami distorsi makna. Sabar yang seharusnya menjadi kekuatan batin untuk bertahan di jalur kebenaran, dipelintir menjadi kepasrahan buta terhadap penindasan. Rakyat diminta untuk memaklumi ketidakadilan sebagai bagian dari skenario Ilahi yang misterius.

Strategi ini sangat licik karena siapapun yang mencoba menggugat ketidakadilan akan langsung dicap sebagai pribadi yang tidak bersyukur atau kurang beriman. Agama pun berubah menjadi jeruji besi yang memenjara akal sehat pengikutnya.

Di tengah realitas sosial saat ini, kita sering melihat bagaimana bencana yang disebabkan oleh kelalaian manusiawi seperti kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal atau kegagalan infrastruktur langsung dilabeli sebagai “musibah takdir.” Penggunaan label ini adalah cara tercepat untuk menghentikan investigasi dan akuntabilitas.

Jika semuanya dianggap kehendak Tuhan, maka tidak ada orang yang perlu dipecat, tidak ada korporasi yang perlu didenda, dan tidak ada sistem yang perlu diperbaiki. Takdir menjadi perisai bagi mereka yang sebenarnya bersalah.

Fenomena ini juga menciptakan mentalitas masyarakat yang fatalistik. Ketika “takdir palsu” ini terus-menerus disuapkan, semangat untuk berinovasi dan memperbaiki nasib secara kolektif akan luruh. Masyarakat cenderung menunggu mukjizat daripada menuntut perbaikan sistem hukum atau ekonomi.

Kondisi apatis inilah yang sangat diinginkan oleh tirani, sebuah massa yang besar namun diam, yang menerima setiap potongan penderitaan dengan senyuman pasrah karena percaya bahwa protes adalah bentuk pembangkangan terhadap Tuhan.

Lebih jauh lagi, Jabariyah modern beroperasi melalui “industri spiritual” yang dangkal. Melalui mimbar-mimbar yang telah dijinakkan, narasi kepasrahan disebarkan secara masif. Mereka yang diuntungkan oleh status quo akan mendanai penyebaran paham ini karena mereka tahu bahwa rakyat yang sibuk meratapi dosa pribadi tidak akan sempat mengamati dosa-dosa kebijakan publik.

Agama dalam hal ini tidak lagi menjadi cahaya yang menerangi jalan gelap ketidakadilan, melainkan riasan kosmetik untuk menutupi wajah kekuasaan yang bopeng.

Tragisnya, pola ini membuat jurang ketimpangan semakin lebar. Para elit terus menumpuk kekayaan dengan cara-cara yang merusak, sementara rakyat bawah diminta terus mengencangkan ikat pinggang sambil menatap langit. Ironi ini menunjukkan bahwa takdir sering kali dijadikan senjata oleh mereka yang hidupnya paling tidak “pasrah.” Mereka mengatur dunia sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi, namun meminta orang lain untuk pasrah pada hasil dari pengaturan jahat tersebut.

Menggugat Jabariyah modern bukan berarti menggugat ketetapan Tuhan, melainkan menggugat manipulasi atas nama Tuhan. Kita harus mampu membedakan mana yang merupakan wilayah kekuasaan Ilahi dan mana yang merupakan wilayah tanggung jawab manusia. Jika sebuah ketidakadilan terjadi karena kebijakan yang salah, maka solusinya adalah perlawanan nalar dan perbaikan sistem, bukan sekadar pelapisan iman.

Sebagai penutup, mengembalikan makna takdir yang benar adalah dengan menyadari bahwa Tuhan memberikan akal untuk berpikir dan keberanian untuk bertindak. Tawakal yang sejati baru bisa ditegakkan setelah keadilan diperjuangkan. Melepaskan diri dari belenggu takdir palsu adalah satu-satunya cara agar agama kembali menjadi ruh pembebasan, bukan lagi menjadi sekadar pelumas bagi mesin tirani yang rakus dan licik. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search