Suasana dingin pagi di masjid kompleks Apple Sun Learning Center, Kota Batu, terasa hangat oleh untaian kebaikan. Para jemaah yang memenuhi masjid khusyuk menyimak pesan-pesan kesejukan dalam kuliah tujuh menit (kultum) bakda subuh pada Ahad (1/11/2026).
Ceramah spiritual yang menggugah tersebut disampaikan oleh Ustaz Kalam Andika, seorang peserta Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) utusan Kabupaten Pasuruan.
Dalam paparan ringkasnya, Ustaz Kalam Andika menggarisbawahi bahwa Allah Swt tidak hanya melihat amal hamba-Nya dari seberapa banyak jumlahnya, melainkan dari seberapa tulus dan dalamnya kualitas ibadah tersebut.
Fasilitas duniawi yang dimiliki manusia hari ini seharusnya tidak membuat lalai, melainkan ditransformasikan menjadi jembatan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat.
“Allah tidak sekadar menilai ibadah dunia dan akhirat kita dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Maka, jadikanlah setiap fasilitas dunia yang ada di genggaman kita saat ini sebagai alat untuk memperbanyak bekal di akhirat kelak,” tegas Ustaz Kalam Andika di hadapan para jamaah.
Ia kemudian mensitir nasihat bijak dari Imam Malik tentang indahnya keragaman potensi dan jalan kebaikan yang telah Allah bagikan kepada setiap hamba. Sebagaimana Allah membagi rezeki dan kecenderungan manusia dalam urusan duniawi—ada yang dilimpahi kekayaan dan ada pula yang hidup berkecukupan—begitu pula dalam urusan akhirat. Setiap orang memiliki keunggulan pintu ibadahnya masing-masing.
Ustaz Kalam menjelaskan bahwa ada orang yang dimudahkan Allah untuk banyak bersedekah, namun merasa berat saat harus merutinkan salat tahajud. Sebaliknya, ada pula orang yang begitu gemar menghidupkan malam dengan salat tahajud, tetapi memiliki keterbatasan dalam bersedekah. Hal ini menunjukkan bahwa kadar serta manifestasi ketakwaan setiap individu memang tidak bisa diseragamkan.
Melanjutkan ceramahnya, Ustaz Kalam Andika memberikan peringatan keras mengenai bahaya spiritual yang sering mengintai, yakni “penyakit merasa” atau kecenderungan membanding-bandingkan kelebihan diri dengan orang lain. Sikap merasa lebih unggul ini merupakan penyakit hati yang sangat merusak.
Ia mengingatkan sejarah kelam masa lalu ketika Iblis diperintahkan oleh Allah Swt untuk bersujud menghormati Nabi Adam as. Saat itu, Iblis secara terang-terangan menolak perintah tersebut hanya karena merasa dirinya lebih mulia dan tidak pantas bersujud kepada Adam yang diciptakan dari tanah.
“Penyakit ‘merasa’—merasa lebih baik, lebih taat, atau lebih mulia dari orang lain—adalah akar dari kesombongan. Inilah kesalahan utama Iblis saat menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam,” pungkasnya memungkas kultum pagi itu. || chusnun
