Jadikan Ramadan Momentum Perubahan, Bukan Sekadar Seremonial

Jadikan Ramadan Momentum Perubahan, Bukan Sekadar Seremonial
www.majelistabligh.id -

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam diingatkan untuk tidak hanya mempersiapkan kebutuhan fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan spiritual dan sosial. Hal itu disampaikan Nurulita Ipmawati, S.EI., M.E., Ketua Umum PCNA Karangpilang sekaligus Wakil Sekretaris DPD IMM Jawa Timur, pada Ahad (15/2/2026).

Perempuan yang akrab disapa Nurul itu menegaskan bahwa Ramadan harus disambut dengan kesungguhan hati dan perencanaan ibadah yang matang.

“Kalau secara spiritual, kita mulai dengan memperbaiki niat, memperbanyak istigfar, melatih konsisten salat dan membaca Al-Qur’an sejak sebelum Ramadan tiba, serta saling memaafkan agar hati lebih ringan,” ujarnya.

Menurut Nurul, persiapan spiritual juga perlu disertai dengan pendalaman ilmu. Ia mendorong umat Islam untuk mempelajari kembali fikih puasa agar pelaksanaan ibadah tidak sekadar mengikuti kebiasaan. Selain itu, menyusun target ibadah menjadi langkah penting, seperti menargetkan khatam Al-Qur’an, melaksanakan tarawih secara penuh, hingga membiasakan sedekah harian.

Tidak hanya aspek spiritual, Nurul juga menekankan pentingnya dimensi sosial dalam menyambut Ramadan. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak larut dalam kesalehan individual semata.

“Pastinya harus lebih peka terhadap tetangga dan keluarga. Jangan hanya sibuk ibadah sendiri, tetapi tetap membantu pekerjaan rumah dan menjadi pendengar yang baik ketika ada anggota keluarga yang lelah atau memiliki masalah,” katanya.

Berbagi makanan berbuka puasa, lanjutnya, dapat menjadi wujud sederhana dari kepedulian sosial. Menurut dia, nilai berbagi tidak diukur dari kemewahan sajian, melainkan dari ketulusan niat.

Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, Nurul menilai generasi muda menghadapi tantangan tersendiri. Godaan menggulir media sosial dan tuntutan pekerjaan kerap membuat puasa terasa sebatas menahan lapar dan haus. Karena itu, ia mengajak anak muda untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum “rehat sejenak dari dunia”.

“Waktu yang biasanya digunakan untuk scrolling bisa dialihkan untuk membaca, mendalami buku, atau memperbanyak percakapan berkualitas bersama keluarga,” tuturnya.

Nurul juga mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak pada orientasi kuantitas semata dalam beribadah.

“Tidak sekadar cepat-cepatan khatam berapa kali. Lebih baik khatam satu kali, tetapi memahami makna dan kandungan ayat Al-Qur’an serta berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan perlunya langkah konkret agar ibadah Ramadan tidak berhenti pada seremonial. Menurut Nurul, masyarakat dapat memulai dengan komitmen sederhana, seperti mengurangi sampah dan tidak menyisakan makanan saat berbuka puasa. Membawa wadah sendiri ketika membeli takjil untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, kata dia, juga merupakan bentuk ibadah dalam menjaga bumi.

“Agar Ramadan tidak hanya menjadi ajang pamer menu berbuka atau sekadar kumpul rutin, tetapi benar-benar menghadirkan dampak bagi lingkungan sekitar,” kata Nurul.

Bagi Nurul, Ramadan sejatinya adalah ruang pembinaan diri sekaligus penguatan solidaritas sosial. Jika disambut dengan niat lurus, ilmu yang cukup, dan kepedulian nyata, bulan suci itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum perubahan yang berkelanjutan. (fathan faris saputro)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search