Jaga Emosi dan Jangan Marah, Kunci Kesehatan Jantung dan Otak

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman. (ist)
www.majelistabligh.id -

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar Kajian Kamisan dalam rangkaian Serial Kesehatan dalam Islam. Kajian kali ini mengangkat tema “Hubungan Marah dengan Kesehatan Kardio-Serebrovaskular”, yang menyoroti keterkaitan pengendalian emosi dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah otak dalam perspektif Islam dan medis.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa kesehatan merupakan salah satu nikmat terbesar yang kerap luput dari rasa syukur. Ia mengutip sabda Rasulullah saw tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yakni kesehatan dan waktu luang.

“Kesehatan memang bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan, segalanya tidak bisa kita nikmati,” kata Agus Taufiqurrahman, Kamis (29/1/2026).

Ia menambahkan, dalam Islam menjaga kesehatan bukan sekadar urusan fisik, melainkan bagian dari amal saleh. Kesehatan menjadi modal utama agar manusia tetap mandiri dan mampu menebar kemanfaatan, terutama ketika memasuki usia lanjut.

“Kalau kita menua dengan sehat, insyaallah kita masih bisa menjadi manusia tua idaman: sehat, mandiri, dan bermanfaat,” tambahnya.

Pihaknya menekankan konsep sehat dalam Islam sejalan dengan regulasi kesehatan modern yang memandang kesehatan secara utuh, mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual. Karena itu, upaya menjaga kesehatan tidak dapat dilakukan secara parsial.

“Sehat yang hakiki bukan sekadar tidak minum obat atau tidak dirawat dokter, tetapi kondisi sejahtera secara fisik, mental, sosial, dan spiritual,” jelasnya.

Terkait tema kajian, Agus mengingatkan bahaya perilaku mudah marah terhadap kesehatan. Menurutnya, marah dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan memicu gangguan serius pada jantung serta pembuluh darah otak. “Marah dapat menurunkan antibodi, melemahkan sel kekebalan alami, dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke,” paparnya.

Saat seseorang marah, hormon adrenalin meningkat, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah melonjak. Jika kondisi ini terjadi berulang, maka risiko pecahnya plak di pembuluh darah semakin besar dan dapat berujung pada serangan jantung maupun stroke.

“Dalam bahasa kita, orang marah itu disebut ‘naik darah’, dan secara medis memang benar, tekanan darahnya naik,” ungkapnya.

Agus juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada informasi keliru terkait penanganan stroke yang banyak beredar, seperti mitos menusuk jari atau telinga. “Stroke adalah masalah di otak. Menusuk jari hanya akan membuang waktu emas. Yang paling penting adalah segera membawa pasien ke rumah sakit, idealnya kurang dari tiga jam,” tegasnya.

Karena itu, Agus mengajak untuk menjadikan nikmat sehat sebagai sarana memperkuat ibadah dan pengabdian sosial. “Badan sehat harus diiringi ibadah yang semakin hebat. Itulah bentuk syukur yang sesungguhnya atas nikmat kesehatan,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search