“Take care of your oral, because it reflects the contents of your heart”
”(Jaga lisanmu, karena ia mencerminkan isi hatimu)”
”Jika pedang melukai tubuh, ada harapan untuk sembuh. Namun, jika lidah melukai hati, ke mana obat harus dicari?”
Pepatah bijak ini menggambarkan betapa dahsyatnya dampak buruk dari lisan yang tak terjaga.
Lisan ibarat pedang bermata dua; di satu sisi bisa menjadi alat untuk kebaikan, di sisi lain bisa membawa petaka. Dengan lisan, kita bisa menyapa, memuji, atau menjalin hubungan baik. Namun, dengan lisan pula, banyak orang mengalami kesengsaraan, bahkan perselisihan dan permusuhan.
Tak heran jika ada pepatah “Mulutmu adalah harimaumu,” yang berarti lisan yang tidak terkendali dapat mencelakakan pemiliknya sendiri. Menjaga lisan adalah kunci keselamatan seseorang. Allah SWT berfirman,
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya:
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap(mencatat).” (Qs. Qaf:18)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap kata yang terucap akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، …..
Artinya:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. ….. (HR. Bukhari No. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim No. 47)
Hadis ini menegaskan bahwa iman yang kokoh tercermin dari kemampuan kita dalam menjaga lisan.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berhati-hati dalam berucap. Ingatlah, keselamatan kita bergantung pada kemampuan kita dalam mengendalikan lisan.
Semoga bermanfaat.
