Hidup terkadang membawa kita pada titik di mana harapan tampak buntu dan logika berkata tidak mungkin. Namun, dalam Islam, doa justru menjadi jembatan keyakinan ketika akal manusia mencapai batasnya. Doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk keyakinan bahwa Allah mampu menembus batas logika manusia. Sesuatu yang tampak mustahil di mata kita, bisa jadi hanyalah bagian dari rencana-Nya yang belum kita pahami.
Beberapa refleksi yang bisa memperdalam makna kalimat ini: Doa adalah energi harapan, menjaga hati tetap hidup, bahkan ketika jalan terlihat buntu. Mustahil bagi manusia tidak bagi Allah. Banyak kisah Qur’ani —seperti kelahiran Nabi Isa tanpa ayah, atau laut yang terbelah untuk Nabi Musa— menjadi bukti bahwa keterbatasan manusia bukanlah batas bagi Allah.
Doa melatih kesabaran, kadang jawaban doa bukan “ya” atau “tidak”, melainkan “tunggu”. Dalam penantian itu, kita ditempa menjadi lebih kuat. Doa adalah bentuk ibadah, bahkan jika hasilnya belum tampak, proses berdoa sendiri sudah bernilai besar di sisi Allah.
Beberapa ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa doa tidak pernah sia-sia, bahkan untuk hal yang tampak mustahil. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk terus berdoa, karena Dia Maha Dekat dan Maha Kuasa untuk menjadikan sesuatu terjadi dengan “Kun Fayakun” (Jadilah, maka jadilah).
1. QS. Ghafir (Al-Mu’min) ayat 60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ
“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Ayat ini menegaskan janji Allah bahwa doa pasti didengar dan dikabulkan, meski bentuk pengabulannya bisa berbeda dari yang kita bayangkan.
2. QS. Al-Baqarah ayat 186
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Ayat ini meneguhkan bahwa Allah dekat dengan doa hamba-Nya, sehingga tidak ada alasan untuk berhenti berdoa.
3. QS. Maryam ayat 9
قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا
“Dia (Allah) berfirman “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”
Sebagian mufasir berpendapat bahwa yang berkata di sini adalah Allah Swt. Sebagiannya lagi berpendapat bahwa yang berkata di sini adalah Jibril. Ayat ini muncul dalam kisah Nabi Zakariya yang berdoa meminta keturunan meski secara manusiawi mustahil karena usia tua dan istrinya mandul. Allah menjawab bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
4. QS. Yasin ayat 82
اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
“Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu.”
Inilah prinsip Kun Fayakun, yang menegaskan bahwa mustahil bagi manusia bukanlah mustahil bagi Allah.
Inti Pesan: Doa adalah ibadah: bahkan jika hasilnya belum tampak, doa sendiri sudah bernilai besar. Mustahil hanyalah perspektif manusia. Kisah Nabi Zakariya, Nabi Musa, dan Nabi Isa menunjukkan bahwa Allah melampaui batas logika manusia. Jangan berhenti berdoa, karena doa adalah jembatan harapan, dan Allah menjanjikan jawaban bagi yang tulus berdoa. (*)
