Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini sedang menjadi perbincangan panas di Indonesia. Sebenarnya, kita harus jujur bahwa niat pemerintah ini sangat mulia. Bayangkan saja, rakyat-rakyat kecil yang biasanya tidak bisa sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, akhirnya kini bisa merasakan sarapan dengan gizi yang baik berkat adanya program ini. Harapan untuk melihat generasi yang lebih sehat pun mulai tumbuh subur di hati masyarakat.
Namun sayangnya, di lapangan kita justru sering disuguhi berita yang bikin elus dada—mulai dari anggaran yang “disunat” sampai kasus anak-anak sekolah yang keracunan massal. Ini jelas bukan salah programnya, tapi salah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang tega mencari untung di tengah piring makan rakyat. Oknum-oknum yang salah ini dengan teganya meracuni isi pikiran masyarakat dengan membuat program yang tujuannya baik ini malah dianggap tidak baik karena eksekusinya yang berantakan.
Masalahnya sekarang adalah soal kepercayaan. Bagaimana orang bisa percaya lagi dengan makanan gratis ini? Bagaimana orang tua bisa tenang ketika melihat anaknya mendapatkan makanan bergizi ini, ketika para oknum yang ingin menjatuhkan program ini terus-menerus memanipulasi keadaan demi kepentingan pribadi atau kelompok mereka?
Ketakutan orang tua adalah hal yang wajar, namun sangat tidak adil jika ketakutan itu muncul hanya karena ulah segelintir orang yang tidak kompeten dan tidak jujur dalam menjalankan tugasnya.
Bagi pihak-pihak yang terus-menerus mengkritik tanpa solusi, coba pikirkan: kalau misalnya program ini dihentikan, bagaimana dengan anak-anak yang tersenyum lebar ketika menerima makanan gizi gratis ini? Bagaimana dengan mereka yang melihat pemerintah sebagai “malaikat” yang telah membantu kehidupan mereka? Bagaimana pula dengan keluarga prasejahtera yang akhirnya bisa sedikit bernapas lega dan menyisihkan uang sakunya untuk keperluan lain karena anak mereka sudah mendapatkan asupan bergizi di sekolah?
Sebagai mahasiswa keperawatan, saya melihat ini bukan sekadar soal kenyang, tapi soal hak warga negara untuk mendapatkan jaminan kesehatan dan kesejahteraan sebagaimana amanat Sila ke-5 Pancasila. Keadilan sosial berarti memastikan anak-anak di pelosok negeri punya kesempatan tumbuh yang sama dengan anak-anak di kota besar.
Pemerintah harus bertindak tegas agar tidak ada lagi ruang bagi oknum untuk bermain-main. Oknum yang bermain dengan nyawa anak-anak lewat program ini tidak hanya harus dipecat, tapi harus dihukum seberat-beratnya karena mereka telah merusak kepercayaan publik dan masa depan bangsa.
Kesimpulan
Kita dukung penuh niat baik pemerintah untuk menyehatkan bangsa, tapi kita tidak akan pernah memaklumi kelakuan oknum yang merusak citra program ini. Jangan biarkan harapan anak-anak kecil untuk bisa sarapan enak setiap pagi sirna hanya karena ulah oknum yang serakah dan manipulatif. Mari kita jaga program ini agar tetap bersih, aman, dan benar-benar menjadi berkah bagi seluruh anak Indonesia. (*)
