Jangan Pernah Menyalahkan Siapapun Dalam Hidupmu

Jangan Pernah Menyalahkan Siapapun Dalam Hidupmu
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Orang baik memberimu kebahagiaan, orang jahat memberimu pengalaman, orang buruk memberimu pelajaran, dan orang terbaik memberimu ketenangan.

“Orang baik memberimu kebahagiaan” adalah potongan hikmah yang indah. Ia bisa menjadi bagian dari rangkaian refleksi tentang peran orang-orang dalam hidup kita:
• Orang baik → menghadirkan kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur.
• Orang buruk → memberi pelajaran, melatih kesabaran, dan memperkuat karakter.
• Orang sulit → mengajarkan keteguhan, daya juang, dan keikhlasan.
* Orang biasa → mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan dan keseharian yang sederhana.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan berbuat baik akan diberi kebahagiaan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik.
1. QS. An-Nahl: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik421) dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.
421) Ayat ini menekankan bahwa laki-laki dan perempuan mendapat pahala yang sama dan bahwa amal kebajikan harus dilandasi iman.

Ayat ini menegaskan bahwa orang baik (beriman dan beramal saleh) membawa kebahagiaan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga memancarkan kebaikan bagi orang lain.

2. QS. Ar-Ra’d: 28
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Kebahagiaan sejati datang dari iman dan zikrullah. Orang baik yang dekat dengan Allah menghadirkan ketenteraman bagi dirinya dan lingkungannya.

3. QS. Al-Baqarah: 112
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ࣖ
Artinya: Tidak demikian! Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih.

Orang baik bukan hanya memperoleh kebahagiaan, tetapi juga terbebas dari rasa takut dan sedih, sehingga menularkan ketenangan kepada orang lain.

Refleksi
Kalimat “Orang baik memberimu kebahagiaan” sejalan dengan pesan Qur’ani:
* Orang baik adalah sumber ketenteraman karena iman dan amal salehnya.
* Kebahagiaan sejati bukan sekadar kesenangan duniawi, melainkan ketenangan hati yang Allah janjikan.
* Kehadiran orang baik di sekitar kita adalah rahmat yang mengingatkan pada Allah dan menumbuhkan syukur.

Dengan begitu, setiap orang yang hadir dalam hidup kita adalah guru dalam bentuknya masing-masing. Tidak ada yang sia-sia, karena semuanya adalah bagian dari perjalanan fitrah.

“Orang jahat memberimu pengalaman”. Ia mengingatkan bahkan dari orang yang menyakiti atau merugikan kita, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik:
* Pengalaman pahit → melatih keteguhan hati dan daya tahan.
* Kesalahan orang lain → menjadi cermin agar kita tidak mengulanginya.
* Ujian keadilan → mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada prinsip dan tidak terjebak dalam dendam.
* Bekal hidup → pengalaman buruk sering kali menjadi modal untuk lebih bijak di masa depan.

Kalimat “Orang jahat memberimu pengalaman” tidak muncul secara eksplisit dalam Al-Qur’an, tetapi maknanya bisa kita temukan dalam ayat-ayat yang menjelaskan bagaimana perbuatan jahat orang lain menjadi ujian, pengalaman, dan pelajaran bagi kita.

1. QS. Al-Baqarah: 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,

Ayat ini menegaskan bahwa ujian, termasuk kejahatan orang lain, adalah pengalaman yang melatih kesabaran.

2. QS. Ali Imran: 186
۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Artinya: Kamu pasti akan diuji dalam (urusan) hartamu dan dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.

Gangguan dari orang jahat adalah pengalaman nyata yang mengajarkan sabar dan takwa.

3. QS. Al-Anfal: 17
فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰىۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَاۤءً حَسَنًاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: Maka, (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin dengan kemenangan yang baik.308) Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

308) Peristiwa ini terkait Perang Badar sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Dia bercerita bahwa ketika Perang Badar berkecamuk, Nabi Muhammad saw. berkata kepada Ali, “Ambilkan aku segenggam pasir!” Ali segera mengambil pasir tersebut dan menyerahkannya kepada beliau. Lalu, beliau melemparkan pasir itu ke muka para musuh sehingga tidak seorang pun yang matanya luput darinya. Oleh karena itu, hancurlah mereka.” (Riwayat aṭ-Ṭabrani).

Pertemuan dengan orang jahat dalam peperangan menjadi pengalaman yang memperlihatkan kuasa Allah dan melatih iman.

Refleksi
* Orang jahat adalah ujian: mereka memberi pengalaman pahit yang melatih kesabaran dan keteguhan.
* Orang jahat adalah cermin: dari pengalaman bersama mereka, kita belajar menghindari jalan keburukan.
* Orang jahat adalah pengalaman sosial: mereka mengajarkan kita bagaimana menghadapi fitnah, gangguan, dan tetap berpegang pada iman

“Orang buruk memberimu pelajaran”. Ia mengingatkan dari orang yang berbuat salah atau menyakiti, ada nilai edukatif yang bisa kita ambil:
* Pelajaran moral → kita belajar membedakan mana yang benar dan salah.
* Pelajaran kesabaran → orang buruk melatih kita untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
* Pelajaran empati → kita jadi lebih peka terhadap luka orang lain, karena pernah merasakan sendiri.
* Pelajaran kepemimpinan → seorang pemimpin belajar dari kesalahan orang lain agar tidak mengulanginya.

Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut “orang buruk memberimu pelajaran,” tetapi banyak ayat yang menyinggung tentang teman buruk, akhlak buruk, dan akibatnya. Ayat-ayat ini menjadi pelajaran agar kita berhati-hati, mengambil hikmah, dan tidak terpengaruh oleh keburukan mereka.

1. QS. Al-Kahfi: 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
Artinya: Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.

Ayat ini mengajarkan agar kita menjauhi orang yang lalai dan mengikuti hawa nafsu. Kehadiran mereka menjadi pelajaran agar kita tetap bersama orang saleh.

2. QS. Al-Furqan: 27-29
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا
Artinya
27. (Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul.
28. Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan530) sebagai teman setia.
530) Yang dimaksud si fulan adalah setan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia.
29. Sungguh, dia benar-benar telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika telah datang kepadaku. Setan itu adalah (makhluk) yang sangat enggan menolong manusia.”

Ayat ini menunjukkan bagaimana teman buruk bisa menjerumuskan, dan dari situ kita belajar untuk berhati-hati.

3. QS. Ali Imran: 118
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُ ۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir.

Ayat ini menegaskan bahwa orang buruk bisa membawa mudarat, dan itu menjadi pelajaran agar kita selektif dalam memilih sahabat.

Refleksi
• Orang buruk adalah cermin: dari mereka kita belajar apa yang tidak boleh dilakukan.
* Orang buruk adalah ujian: mereka melatih kesabaran, keteguhan, dan kemampuan menjaga prinsip.
• Orang buruk adalah pelajaran sosial: agar kita lebih bijak dalam memilih lingkungan dan teman.

“Orang terbaik memberimu ketenangan” Ia menegaskan bahwa kehadiran orang yang benar-benar baik—yang imannya kuat, akhlaknya mulia, dan hatinya jernih—membawa ketenangan batin bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya.

Landasan Qur’ani
1. QS. Ar-Ra’d: 28
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Orang terbaik adalah mereka yang senantiasa mengingat Allah, sehingga menghadirkan ketenangan.

2. QS. Al-Fath: 4
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ
Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Ketenangan adalah anugerah Allah kepada orang beriman, dan mereka menularkannya kepada orang lain. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search